Tampilkan postingan dengan label muslim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label muslim. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Juli 2011

Khilafah Dalam Tunjauan Pemikiran Politik Islam


Khilafah Turki Utsmani
Pengertian Khilafah
Dalam Khazanah pemikiran politik Islam terdapat dua istilah yang memiliki satu makna, yakni Al Khilafah dan Al Imamah[1]. Kata Al Khilafah banyak digunakan dalam kitab tarikh, sedangkan kata Imamah banyak digunakan dalam kitab fiqh dan aqidah[2]. Secara istilah, kedua kata tersebut memiliki pengertian yang sama, yaitu: kepemimpinan umum (ri-asah ‘ammah) bagi seluruh kaum muslimin di dunia yang didirikan dalam rangka menegakkan syariat islam dan mengemban dakwah islam ke segenap penjuru dunia[3]. Dari definisi tersebut bisa dipahami bahwa Khilafah itu memiliki fungsi ke dalam dan ke luar. Ke dalam melakukan penerapan syariat Islam dan ke luar melakukan penyebaran Islam. Al Juwaini memberi beberapa contoh fungsi yang dijalankan oleh Khilafah, yakni: menjaga wilayah Islam, mengurusi urusan rakyat, melaksanakan dakwah baik menggunakan hujjah maupun senjata, mencegah munculnya berbagai penyimpangan dan kedholiman, memberi keadilan bagi orang-orang yang terdholimi, mengambil hak dari orang-orang yang menolak untuk menyerahkannya dan membayarkannya kepada orang-orang yang berhak menerimannya[4]. Dengan melihat fungsi tersebut, kita bisa menyimpulkan bahwa khilafah bukanlah kepemimpinan spiritual yang semata-mata bersifat simbolis, akan tetapi Khilafah merupakan kepemimpinan riil yang meniscayakan adanya wewenang hukum dan kekuatan politik. Maka, tidak salah jika para ulama kontemporer menyebut Khilafah dengan istilah Ad Daulah Al Islamiyyah (Negara Islam)[5], karena pada faktanya Khilafah memang benar-benar menjalankan fungsi sebagai suatu negara, fakta tersebut bisa kita saksikan lewat sejarah Khilafah yang panjang[6]. Negara Khilafah disifati dengan embel-embel Islam karena ia berdiri atas dasar Aqidah Islam serta menjadikan Syariat Islam sebagai hukum dan kebijakan yang diterapkan di dalamnya.
Hukum Menegakkan Khilafah
Hampir seluruh ulama dari berbagai madzhab sepakat bahwa keberadaan al Khilafah alias al Imamah alias Negara Islam itu hukumnya wajib. Ibnu Hazm dalam Al Fashl berkata: “Seluruh Ahlus Sunnah, Murji’ah, Syi’ah dan Khowarij sepakat akan wajibnya Al Imamah, dan bahwasannya umat wajib tunduk kepada seorang imam yang adil yang menegakkan hukum-hukum Allah di tengah-tengah mereka dan mengurusi mereka dengan hukum syariat yang dibawa oleh Rasulullah saw, kecuali An Najdaat dari kalangan khowarij, mereka berkata: kewajiban imamah tidak mengikat manusia, yang diwajibkan bagi mereka hanyalah berinteraksi dengan haq”[7]. Ibnu Kholdun berkata dalam Muqoddimahnya :”sesungguhnya pengangkatan Imam adalah wajib, kewajiban itu telah diketahui dalam syariat melalui ijma’ shohabat dan tabi’in..”[8]. Dalam Al ahkamus Sulthoniyah Al Mawardi berkata: “pengangkatan orang yang menjalankannya (imamah) adalah wajib atas dasar ijma’, meskipun Al Ashom menyimpang sendiri dari ijma’ mereka”[9]. Al Asy’ari dalam Maqolatul Islamiyin berkata : “Mereka berbeda mengenai wajibnya Imamah. Semua manusia berkata bahwa imam itu harus ada, kecuali Al Ashom”[10]. Al Ashom berkata: “jika manusia terbebas dari tindakan saling mendholimi maka mereka tidak membutuhkan imam”. Al Qurthubi dalam tafsirnya berkata: “Di antara manusia dan di antara imam-imam mujtahid tidak ada perbedaan pendapat mengenai wajibnya mengangkat imam (kholifah) kecuali apa yang diriwayatkan dari Al Ashom, mengingat ia tuli (ashom) terhadap syariat, begitu pula dengan orang yang sependapat dengan dia dan mengikuti pandangan dan madzhabnya”[11]. Al Baghdadi berkata: “Sebagian besar sahabat kami dari kalangan ahli kalam dan ahli fiqh bersama Syi’ah, Khowarij dan sebagian besar Mu’tazila menyatakan wajibnya Imamah, dan bahwasannya wajib untuk mematuhi pemangku jabatan tersebut, dan bahwa kaum muslimin harus memiliki seorang imam yang menerapkan hukum-hukum mereka dan menegakkan hudud mereka, mengerahkan tentara mereka, menikahkan yang tidak memiliki wali dan membagikan fai’ di antara mereka. Sebagian orang yang nyeleneh dari kalangan qodariyah seperti Abu Bakar Al Ashom dan Hisyam Al Futho berbeda pendapat dengan mereka”[12]. Para ulama ini menyatakan bahwa kewajiban Khilafah atau Imamah itu didasari oleh dalil-dalil dari Al Qur’an, sunnah dan ijma’ shohabat[13].
Pada zaman modern, teradapat ulama Al Azhar yang menyatakan bahwa islam tidak membawa persoalan negara, bahwa khilafah bukan merupakan bagian dari risalah yang dibawa oleh Rasulullah saw, dan menyatakan bahwa pemerintahan Abu Bakr dan sesudahnya bukan merupakan pemerintahan yang bersifat agama (Islam)[14]. Dia adalah Asy Syaikh Ali Abdur Raziq dengan bukunya yang kontroversial, Al Islam wa Ushulul Hukm. Pendapatnya telah dibantah oleh banyak ulama sezamannya, antara lain oleh Asy Syaikh M Khidhir Husain (ulama besar Al Azhar) dan M. Thohir Ibnu ‘Asyur (mufti Tunisia). Karena pendapatnya dalam kitab itu, Ali Abdur Raziq diadili oleh 24 orang ulama dari Hai’atu Kibari Ulama al Azhar yang memutuskan untuk membebaskannya dari segala tugas yang dia emban, termasuk dari jabatan hakim dan dosen, melepas kedudukannya sebagai salah satu ulama al Azhar, dan tidak mengakuinya sebagai bagian dari kalangan ulama[15]. [ttx]
  1. [1] Khilafah merupakan sinonim dari Imamah, lihat: Ibnu Kholdun, al muqoddimah, hal 151; M. Dhiyauddin Rais, An Nadhoriyatus Siyasiyyah, hal 118; M Yusuf Musa, Nidhomul Hukmi fil Islam, hal 20; Sholahuddin M Nawar, Nadhoriyatul Khilafah awil Imamah; Jamal Ahmad As Sayid Jad Al Marokibi, Al Khilafah Al Islamiyah bainan Nudhumil Mu’ashiroh, hal 42; Ad Dumaiji, Al Imamah Al ‘Udhma, hal 32, Abu Zahroh, Tarikh al Madzahib al Islamiyah, hal 19; Abdur Qodir ‘Audah, Al Islam wa Audhouna as Siyasiyah, hal 121; An Nabhani, Asy Syakhshiyyah. juz II, hal. 13.
  2. [2] Ad Dumaiji, Al Imamah Al ‘Udhma, hal 36.
  3. [3] An Nabhani, Asy Syakhshiyyah. juz II, hal. 13. Sedangkan Al Qolqosyandi mendifinisikannya sebagai: kepemimpinan agung (az za’amatul udhma) yang merupakan kekuasaan umum atas seluruh umat, yang berdiri untuk melaksanakan kepentingan mereka dan mengangkat beban mereka (ma’atsirul Inafah, hal. 7). Sedangkan Al Juawini mendifinisikannya sebagai : kepemimpinan tertinggi dan umum terkait dengan penegakkan kepentingan-kepentingan agama dan dunia baik secara umum maupun khusus … (Ghiyatsul Umam, hal 15); Sementara Al Bulqini mendefinisikannya dengan ungkapan : kepemimpinan dalam agama dan dunia secara umum / riyasah fiddin wad dunya ‘aaman (lihat: Minhajul Ushuliyyin)
  4. [4] Al Juwaini, Ghiyatsul Umam, hal 15
  5. [5] An Nabhani, Asy Syakhshiyyah Juz II, hal. 103; Abdur Qodir ‘Audah, Al Islam wa Audhouna as Siyasiyah, hal 121; Rafa’at Utsman, Riyasatud Daulah fil Fiqhil Islamiy, hal 1 Muqoddimah; Dlou Miftah Ghomiq, As Sulthotut Tasyri’iyah, hal 54; Hasan Shubha Ahmad, Ad Daulah Al Islamiyyah wa Sulthotuha at tasyri’iyah, hal. 46;
  6. [6] Lihat buku yang mengungkap sejarah Khilafah , seperti Ma’atsirul Inafah, yang menghimpun data sampai masa pemerintahan Al Abbas bin Muhammad (Al Musta’in billah) yang dibaiat pada tahun 808 H.
  7. [7] Ibnu Hazm, al Fash fil Milal wal ahwa’ wan nihal, IV, hal 87.
  8. [8] Muqoddimah, hal. 151
  9. [9] Al Ahkamus Sulthoniyah, hal. 15
  10. [10] Abu Bakr Abdur Rahman bin Kaisan Al Ashom, ulama besar kalangan Mu’tazilah generasi ke enam
  11. [11] Al Qurthubi, Al Jami’ liahkamil Qur’an, hal. 397
  12. [12] Abdul Qohir Al Baghdadi, Ushulud Din, hal 271.
  13. [13]Lihat: M. Thohir bin Asyur, Naqdun ‘Ilmiy likitabil Islam wa Ushulil Hukm, hal. 5
  14. [14] Ali Abdur Raziq, Al Islam wa Ushulul Hukmi, hal 103
  15. [15] Muhammad ‘Imaroh, Al Islam wa Ushulul Hukm, dirosah wa watsa’iq, hal 22, keputusan itu dikeluarkan oleh hai’ah Kibaril Ulama pada tanggal 12 Agustus 1925.
Download juga buku “Struktur Daulah Khilafah [Pemerintahan dan Administrasi)”
read more “Khilafah Dalam Tunjauan Pemikiran Politik Islam”

Islam dan Masa Depan Komunitas Muslim di Irlandia


Togher adalah kawasan industri yang terletak di pinggiran kota sekitar dua kilomoter di selatan pusat kota Cork, Irlandia. Di kawasan industri itu terdapat sebuah bangunan beton yang cukup besar, yang akan menjadi bagian penting sejarah Islam di Irlandia.
Bangunan itu dalam setahun ini, akan diubah menjadi kompleks masjid yang mampu menampung 1.000 lebih jamaah. Gambar disain masjid menunjukkan sebuah lengkungan kubah berwarna putih dengan bulat sabit di atasnya akan menghiasi masjid yang akan menjadi tempat kedua terbesar bagi komunitas Muslim Irlandia, setelah Islamic Cultural Centre of Ireland (ICCI) yang berlokasi di Clonskeagh, Dublin.
“Ini merupakan langkah yang sangat penting bagi kami. Selama bertahun-tahun kami berpindah-pindah dari tempat sewaan yang satu ke tempat sewaan yang lain. Akhirnya, kami punya tempat sendiri,” kata Imam Salim Al-Faituri.
Menurut Imam kelahiran Libya itu, biaya pembangunan masjid baru itu berasal dari donasi kaum Muslimin di Irlandia dan para dermawan dari negara Qatar. Masjid ini akan menjadi pusat kegiatan komunitas Muslim di Cork yang jumlahnya sekitar 6.000 jiwa, dan muslim di kota-kota lain disekitarnya.
“Masjid itu akan menjadi pusat komunitas Muslim kedua terbesar di luar kota Dublin,” kata Ahmed H. Zahran, seorang akademisi asal Mesir yang mengajar di University College Cork. Zahran adalah satu satu anggota komite pembangunan masjid di Togher.
Pembangunan masjid di kota industri Togher menunjukkan bahwa agama Islam sudah memiliki akar di Irlandia. Jumlah muslim di negeri ini terus bertambah dari tahun ke tahun, meski keberadaan komunitas Muslim di Irlandia masih relatif baru dibandingkan dengan negara Eropa lainnya.
Dalam kurun waktu 20 tahun, jumlah penganut agama Islam di Irlandia meningkat 10 kali lipat. Sensus tahun 2006 menunjukkan jumlah muslim dibawah angka 33.000, tapi para pengamat meyakini bahwa jumlah muslim yang sebenarnya di Irlandi mencapai lebih dari 40.000 jiwa. Antara tahun 2002-2006, jumlah muslim meningkat hingga 70 persen dan Islam menjadi agama yang paling cepat pertumbuhannya dibandingkan agama lainnya yang ada di Irlandia.
Komunitas Muslim di Irlandia juga makin beragam. Di awal keberadaannya, komunitas Muslim didominasi oleh muslim asal Timur Tengah dan Afrika Utara yang datang ke Irlandia untuk keperluan belajar atau profesi. Mereka lalu menetap, bahkan ada yang menikah dengan orang Irlandia asli.
Di awal tahun 1990-an, mulai berdatangan komunitas Muslim dari Asia Tenggara, Asia Selatan, sub-Sahara Afrika dan dari Balkan. Mereka yang datang kebanyakan anak-anak muda yang berimigrasi ke Irlandia dengan alasan ekonomi, atau mencari suaka. Muslim dari Nigeria, Libya, Irak, Somalia, Al-Jazair dan beberapa negara lain, datang ke Irlandia karena mendapatkan suaka. Mayoritas komunitas Muslim di Irlandia adalah kalangan muslim Sunni dan sebagian kecil komunitas Muslim Syiah terutama di kota Dublin.
“Muslim di Irlandia mungkin salah satu populasi Muslim yang paling beragam di Eropa,” kata Dr Oliver Scharbrodt, ilmuwan yang sudah tiga tahun ini melakukan proyek penelitian tentang Islam di Irlandia.
Scharbrodt menjelaskan, “Di negara-negara Eropa lainnya, Anda akan menemukan kelompok etnik atau kebangsaan tertentu mendominasi komunitas Muslim karena latar belakang sejarah atau hubungan kolonial, tapi hal semacam itu tidak terjadi di Irlandia.”
“Irlandia, bisa dikatakan sebuah mikrokosmos dari komunitas keagamaan secara global. Di sini, terdapat penganut agama dari berbagai latar belakang bangsa, trend dan gerakan yang hidup dalam ruang geografis dan sebuah masyarakat komunal yang lebih kecil,” ujarnya.
Organisasi Muslim dan Pengaruh Ikhwanul Muslimin
Di Irlandia hanya ada satu pusat kebudataan Islam yang terbesar yaitu Islamic Cultural Centre of Ireland (ICCI). Pusat kebudayaan ini menjadi wakil dan jembatan antara komunitas Muslim dengan pemerintah dan komunitas lainnya di Irlandia.
Presiden Irlandia Mary McAleese dan sejumlah pejabat pemerintah Irlandia lainnya pernah berkunjung ke Pusat Kebudayaan Islam yang terletak di selatan kota Dublin itu. Ketika terjadi agresi Israel ke Gaza pada tahun 2009, pejabat pemerintah Irlandia Dick Roche menyempatkan diri datang ke ICCI untuk menjelaskan posisi Irlandia atas konflik tersebut.
ICCI yang dilengkapi dengan sekolah Islam, dibangun pada tahun 1996 dengan dana dari Yayasan Al-Maktoum, yayasan yang diketua oleh Syaikh Hamdan bin Rashid Al-Maktoum, deputi pemerintah Dubai dan menteri keuangan Uni Emirat Arab. Keluarga Al-Maktoum memiliki bisnis yang luas di Irlandia. ICCI dikelola oleh 20 staf yang kebanyakan berkebangsaan Arab dan merupakan pegawai tetap dari Yayasan Al-Maktoum. Direktur Eksekutif ICCI sekarang adalah Dr Nooh Al-Kaddo, muslim kelahiran Irak yang pindah dari Inggris ke Dublin pada tahun 1997. Muslim Irlandia menyebut ICCI sebagai masjid “Ikhwani” yang diidentikkan dengan kelompok Ikhwanul Muslimin di Mesir.
Dalam catatannya tentang Islam di Irlandia, Scharbrodt menulis bahwa ICCI merupakan bagian dari jaringan kelompok dan organisasi Islam di Eropa yang memiliki hubungan dengan gerakan Ikhwanul Muslimin. Kaitan ini, menurut Scharbrodt, kerap menimbulkan kontroversi, meski dalam kaitannya dengan ICCI, hubungannya dengan Ikhwanul Muslimin sangat longgar dan tidak formal. Namun menurut seorang sumber di Irlandia yang tidak mau disebut namanya, Ikhwanul Muslimin di Mesir memang memberikan pengaruh yang besar pada elemen-elemen keislaman yang ada di Irlandia.
Scharbrodt juga memuji peran Hussein Halawa, muslim kelahiran Mesir yang sekarang menjadi Imam di masjid ICCI. Lewat peran Halawa, ICCI menjadi sekretariat organisasi Dewan Riset dan Fatwa Eropa. “Sehingga Irlandia menjadi salah satu pusat trend ideologi dan intelelektual yang paling berpengaruh dalam dunia Muslim kontemporer,” kata Scharbrodt.
Selain ICCI, di Irlandia juga terdapat organisasi Dewan Imam Muslim Irlandia dan Islamic Foundation of Ireland. Seiring dengan bertambahnya jumlah muslim di negeri itu, juga bermunculan organisasi-organisasi muslim baru. Salah satunya, Public Affairs Commitee yang didirikan oleh Liam Egan–seorang asli Irlandia yang memeluk Islam.
Dibukanya kedutaan besar Arab Saudi di Dublin pada tahun 2009, menambah dinamis pertumbuhan komunitas Muslim dan perkembangan agama Islam di Irlandia. Kedubes Saudi berencana membuka sekolah dan membangun sebuah masjid baru di Dublin. “Jika rencana itu terealisasi, akan memberikan dampak yang besar, seperti yang kita lihat di negara-negara lain,” kata Umar Qadri, seorang imam di Islamic Centre Blanchardstown.
Melihat perkembangan Islam dan komunitas Muslim di Irlandia, Scharbrodt menyarankan agar pemerintah Irlandia meningkatkan hubungan yang baik dengan berbagai elemen Muslim di negeri itu, terutama dengan generasi kedua Muslim yang lahir dan besar di Irlandia.
“Idealnya, pemerintah harus membuka dan menjalin hubungan yang lebih luas lagi dengan masjid-masjid, organisasi dan komunitas Muslim. Ini butuh investasi, waktu dan sumber daya manusia yang besar untuk merangkul mereka semua sebagai bagian dari masyarakat Irlandia,” tukas Scharbrodt. (ln/isc)
read more “Islam dan Masa Depan Komunitas Muslim di Irlandia”

My Name is KHAN : Ketika Amerika Jadi Jelek

http://www.suara-islam.com/news/images/stories/Berita/my-name-is-khan.jpg
Sesungguhnya My Name Is Khan yang beredar sejak tengah Februari di gedung-gedung bioskop Jakarta, adalah sebuah film India biasa yang berkisah tentang percintaan antar-manusia. Tapi tempat kejadian atau setting yang diambil, San Francisco, Amerika Serikat, setelah dua menara kembar WTC, New York, rubuh ditubruk pesawat bajakan teroris, 11 September 2001, membuat film ini berbeda.
My Name Is Khan menjadi media untuk memberitahukan dunia apa yang sesungguhnya terjadi di Amerika Serikat pada waktu itu. Lebih penting lagi: inilah film yang mengungkapkan penderitaan kaum Muslim Amerika Serikat setelah serangan teror World Trade Center (WTC), sesuatu yang selama ini tak banyak diketahui publik dunia.
Mereka menjadi korban fitnah, dituduh teroris oleh polisi atau FBI. Tak terhitung jumlah yang ditangkap, untuk belakangan dilepaskan karena tak ada bukti. Itu masih belum apa-apa. Tak terhitung jumlah Muslim jadi korban pengeroyokan atau penganiayaan dari orang-orang Amerika yang marah di jalan-jalan. Para wanita dibuka paksa jilbabnya. Tak terhitung rumah atau properti milik Muslim dijarah atau dirusak. Semua tindakan itu rasis. Betapa tidak?.
Ada segerombolan orang Arab yang konon dipimpin Usamah Bin Ladin dituduh melakukan teror dengan menubrukkan pesawat  terbang ke gedung World Trade Center. Akibatnya, dua menara kembar itu rubuh, dan sekitar 3000 orang di dalamnya tewas. Sungguh peristiwa yang mengerikan.
Tapi mengapa kemudian yang menjadi korban pembalasan adalah  ummat Islam di Amerika Serikat –  berjumlah sekitar 7 juta di antara 300 juta penduduk Amerika Serikat — yang tak tahu menahu peristiwa teror itu? Jelas ini adalah akibat sikap rasisme yang bersemayam di lubuk hati banyak orang Amerika Serikat. Sikap rasis inilah dulu yang mengakibatkan musnahnya orang Indian dari Benua Amerika, atau menyebabkan terjadinya perbudakan selama ratusan tahun terhadap orang hitam dari Afrika.
Peristiwa rasisme kepada Muslim setelah 11 September memang sungguh memalukan. Soalnya, Amerika Serikat selama ini selalu ditonjolkan sebagai negara kampiun demokrasi, pendukung persamaan hak, dan pelindung hak azasi manusia. Tapi melalui My Name Is Khan dipertontonkan betapa jelek Amerika Serikat setelah 11 September 2001. Polisinya jelek, wartawannya jelek, tetangganya jelek, bahkan remajanya pun jelek. Semua tak bersahabat. Semua penuh kebencian dan rasis.
TANPA TARI DAN NYANYI
Seperti disebutkan di atas, My Name Is Khan adalah film percintaan yang romantik. Sebagaimana kebanyakan film Bollywood, ia kemudian menjadi melankolis, penuh adegan menguras air mata, untuk kemudian semua berakhir happy ending.
Rizwan Khan (diperankan aktor paling top dunia saat ini dari Bollywood, Shah Rukh Khan) seorang pemuda Muslim asal Mumbai, India, pergi merantau ke San Francisco, atas sponsor adik kandungnya, Zakir, yang sudah lebih dulu menetap di sana, dan sukses.
Rizwan penderita Asperger’s syndrome, semacam penyakit Autis yang lebih ringan. Hal itu membuatnya tampak beda dengan manusia lain. Ia sangat cerdas, mampu memperbaiki nyaris semua jenis mesin, tapi kesulitan berinter-aksi dengan orang baru. Ia amat takut warna kuning.
Atas bantuan Zakir, Rizwan bekerja sebagai pramuniaga produk kecantikan yang terbuat dari herbal. Semua tampak berjalan lancar. Rizwan, Zakir dan istrinya, Haseena, seorang psikolog yang memakai jilbab, tampak hidup rukun. Mereka taat beribadah.
Dalam pekerjaan, Rizwan berkenalan dengan seorang perawat kecantikan, Mandira (diperankan artis nomor 1 India, Kajol Devgan). Mandira, menjalani hidup sebagai janda dengan satu anak, Sameer alias Sam, setelah ditinggal pergi suaminya.
Singkat cerita, Rizwan dan Mandira terpaut asmara lalu menikah dan menetap di luar San Francisco, di tempat mana mereka mengusahakan salon kecantikan kecil. Mandira mau pun Sameer menambahkan Khan di belakang nama mereka. Keluarga ini akrab dengan tetangganya, Mark, seorang wartawan dengan istri (Sarah) dan seorang anak (Reese).
Semua tampak berbunga-bunga. Tapi berbeda dengan film India biasa, di sini tak ada adegan tarian dan nyanyian untuk resep penyedap. Gantinya, sejumlah lagu dimunculkan sebagai ilustrasi untuk adegan tertentu. Dengan demikian film itu tetap terasa India.
Tapi kemudian datanglah peristiwa 11 September celaka itu.  Mark, tetangga mereka yang wartawan, ditugaskan meliput perang di Afghanistan, dan terbunuh di sana. Sejak itu, sang anak, Reese, teman akrab Sameer, berubah menjadi musuh. Karena nama Khan di belakang namanya, Sameer dianggap Reese sebagai orang Afghanistan. Orang-orang lain pun memusuhi mereka.
Nasib Haseena lebih parah. Dia dikeroyok sejumlah lelaki di jalan hanya karena memakai jilbab. Penduduk Muslim lainnya mengalami nasib sama: toko dirusak, rumah ditimpuk, atau orangnya dikeroyok. Malah tak sedikit orang India penganut Sikh – memakai serban di kepala – turut jadi korban karena disangka orang Afghanistan yang Muslim. Jadi sekali lagi, semua ini menggambarkan betapa sikap rasis masih berkembang subur di dalam masyarakat Amerika Serikat.
Nasib paling parah diterima Sameer. Diawali pertengkaran dengan Reese, Sameer dikeroyok sejumlah remaja bule hanya karena kulitnya hitam. Sebenarnya Reese mencoba menyelamatkan Sameer, tapi tak berhasil. Sameer yang sekarat sempat dibawa ke rumah sakit namun nyawanya tak tertolong.
Rizwan sedih sekali karena ia sangat akrab dengan putra tirinya itu. Tapi yang terguncang adalah sang ibu, Mandira. Ia anggap ‘’bencana’’ yang menimpa mereka karena nama Khan di belakang namanya dan Sameer.  Maka Rizwan sebagai biang bencana ia usir. Ia perintahkan Rizwan mengatakan kepada orang Amerika, termasuk Presiden Amerika Serikat:  bahwa namanya Khan, tapi ia bukan teroris (My name is Khan, and I am not a terrorist).
Rizwan pun dengan ikhlas melakukan pekerjaan itu. Ia mengembara seorang diri. Dalam pengembaraan, ia sempat menghadiri sebuah acara terbuka yang dihadiri Presiden George W.Bush. Ia mendekati Presiden sembari terus berteriak: My name is Khan, I am not a terrorist. Belum sempat teriakan itu didengar Bush, para pengawal meringkusnya karena dicurigai sebagai teroris.
Apa yang ia alami, sungguh menyakitkan: ia dimasukkan ke ruangan dengan suhu yang panas, lalu dipindah ke ruangan yang amat dingin. Berbagai siksaan lainya harus ia terima. Toh akhirnya ia harus dibebaskan karena tak terbukti sebagai teroris. Itu juga berkat bantuan tiga wartawan asal India.
Nama Rizwan kemudian melambung menjadi pahlawan di televisi, karena menolong penduduk sebuah desa di Georgia yang diterjang banjir. Kebetulan penduduk desa itu orang hitam dan sama sekali tak dapat bantuan dari mana pun. Setelah berita ramai di televisi, bantuan datang dari orang-orang Muslim yang dikoordinasikan Haseena dan suaminya, Zakir.
Adegan ini tampaknya diilhami tragedi banjir bandang di New Orleans akibat terpaan badai Katrina pada 2005. Mayoritas korban banjir ini orang hitam dan berhari-hari tak dapat bantuan dari pemerintah. Peristiwa ini menyebabkan Presiden Bush diterpa kecaman keras terutama dari masyarakat kulit berwarna Amerika Serikat.
DI GUJARAT, 2000-AN MUSLIM DIBUNUH
Maka sekarang happy ending itu tiba. Mandira terhibur setelah polisi menangkap para remaja yang membunuh anaknya, berkat kesaksian Reese yang merasa bersalah atas tragedi itu. Mandira pun mencari Rizwan ke Georgia. Mereka berdua kemudian menghadiri sebuah acara pertemuan Presiden Barack Obama yang baru terpilih menggantikan George Bush, dengan para pendukungnya.
Mereka berhasil bertemu dengan presiden baru itu. ‘’Namamu Khan dan kau bukan teroris (Your name is Khan and you are not a terrorist),’’ ujar Presiden Obama kepada Rizwan di hadapan ribuan pendukungnya.
My Name Is Khan dirilis pertama kali di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, 10 Februari lalu. Dua hari kemudian, barulah film ini beredar di Eropa, Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan bagian dunia lainnya. Di berbagai tempat film ini dikabarkan memecahkan rekor penonton film India, seperti di Inggris, Australia, dan Amerika Serikat. Tampaknya My Name Is Khan hanya tambah memperkuat dominasi Bollywood atas perfilman dunia sekarang ini, setelah melangkahi Hollywood.
The New York Times, 13 Februari lalu, dalam resensinya menyebutkan adalah menarik melihat Amerika melalui lensa Bollywood, sekali pun yang diceritakan cuma dongeng. Misalnya, yang paling mengesankan tentang hubungan antara orang Muslim (India) dengan orang hitam Amerika Serikat di dalam film. ‘’Khan dengan mudah memancing air mata, sembari mengajarkan tentang Islam dan toleransi,’’ tulis koran Amerika Serikat itu.
Toleransi? Kata-kata itu tampaknya semakin sulit dipraktikkan sekarang. Di India sendiri, film itu beredar di tengah ancaman kekerasan tanpa toleransi dari para pendukung Shiv Sena, partai Hindu radikal dan sangat anti-Islam.
Sejumlah gedung bioskop tak berani memutar My Name Is Khan. Ketika film ini dirilis di Mumbai, kota utama dan pusat perfilman India, 12 Februari lalu, ribuan polisi terpaksa dikerahkan mengawal gedung bioskop dari aksi Shiv Sena. Kelompok itu sempat menurunkan pamplet dan poster film dari  berbagai gedung bioskop. Guna mengamankan pemutaran film sekitar dua ribu pendukung partai radikal itu terpaksa diamankan polisi.
Sebenarnya aksi Shiv Sena, menurut banyak pengamat, berfokus pada pemeran utama film itu, Shah Rukh Khan, yang kebetulan beragama Islam. Khan yang oleh Majalah Newsweek dicantumkan sebagai salah satu dari 20 tokoh paling berpengaruh dunia, sedang berada di luar negeri mempromosikan filmnya, ketika Shiv Sena beraksi di Mumbai.
Melalui twitter Khan menulis bahwa ia tak ingin filmnya mengganggu suasana kota kelahirannya itu. ‘’Saya harap perdamaian menang dan Kota dalam keadaan tenang,’’ tulisnya. Untuk diketahui penduduk Muslim yang berjumlah 140-an juta di antara 1 milyar penduduk India, beberapa kali menjadi korban kekerasan dari kelompok mayoritas Hindu.
Di Mumbai, misalnya, di tahun 1993 meletus kerusuhan anti-Islam yang antara lain dikobarkan Partai Shiv Sena. Pada tahun 2002, meletus kerusuhan anti-Islam di Gujarat selama beberapa bulan, menyebabkan 2000-an Muslim terbunuh.
Seperti ditulis Profesor Martha Nussbaum, pakar hukum dan etik dari University of Chicago di dalam bukunya The Clash Within (Harvard University Press, 2008), pembunuhan kaum Muslim di Gujarat oleh kelompok radikal Hindu amat kejam. Yang dibantai bukan hanya wanita dan anak-anak. Wanita hamil dikeluarkan oroknya, lantas dilemparkan ke tengah kobaran api. Pemerkosaan wanita Muslim banyak terjadi.
Yang lebih parah, kerusuhan ini melibatkan institusi polisi, intelijen, atau birokrat Hindu, bahkan Ketua Menteri Negara Bagian Gujarat, Narendra Modi. Setelah kerusuhan banyak properti milik Muslim yang ditinggal lari, diambil alih orang-orang Hindu. Itulah yang terjadi di India, yang sering dibanggakan sebagai negeri demokratis itu. (suara islam)
read more “My Name is KHAN : Ketika Amerika Jadi Jelek”

shAre

Entri Populer