Tampilkan postingan dengan label pesawat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pesawat. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Oktober 2014

CURENG PESAWAT KAMIKAZE


Beberapa pesawat Cureng di PU Maguwo Yogyakarta
 Beberapa hari ini atau bahkan beberapa tahun ini Indonesia digemparkan dengan kabar Indonesia dan korea akan membuat pesawat siluman terbaru. tetapi apakah anda tahu dikalau masa lalu Indonesia telah punya pesawat siluman buatan jepang? Berikut profil Cureng :
Nama cureng merupakan nama lokal Indonesia, dalam bahasa Jepang  pesawat buatan pabrik Nippon Hikoki KK tahun 1933 ini dikenal dengan sebutanYokusuka K5Y (Shinsitei). Sedangkan pihak Serikat menyebutnya dengan “Willow”. Dalam Perang Pasifik, pesawat ini dijuluki  dengan   “Red Dragonfly” (Si Capung Merah).  Sejak berlangsungnya perang Cina-Jepang sampai tahun berakhirnya perang Pasifik telah diproduksi sebanyak 5.591 buah pesawat. Beberapa buah diantaranya digunakan untuk pasukan penyerang “kamikaze” meskipun sebenarnya pesawat ini dibuat untuk pesawat latih lanjut.
Pesawat Cureng  tergolong pesawat kecil bermesin tunggal bersayap dua (atas dan bawah) yang dilapisi kain dengan  dua tempat duduk (depan belakang). Copit  tanpa kanopi penutup atas sehingga bagian kepala dan dada penerbang kelihatan jelas dari luar.   Menggunakan motor radial dingin angin “Teppo” dengan kekuatan 350 dayakuda, pesawat ini memiliki kecepatan jelajah 157 km/h dan  kecepatan mendarat 92,6 km/h.  Pencapai terbang sejauh 708 km dengan  batas ketinggian praktis 4000 m dengan lama terbang 4½ jam. 
Cureng ini merupakan pesawat peninggalan Jepang yang paling banyak dibandingkan dengan pesawat lainnnya.   Di Indonesia pesawat cureng ini ditemukan hanya di Pangkalan Udara Maguwo Yogyakarta sebanyak 50 buah.  Untuk memastikan kondisi pesawat tersebut atas perintah Suryadi Suryadarma, didatangkan teknisi dari Pangkalan Udara Andir Bandung.  Di Pangkalan Udara Maguwo waktu itu tidak ada teknisi pesawat.  Dua orang dari beberapa teknisi dari Bandung tersebut  adalah Basir Surya dan Tjarmadi.
Dari hasil pemeriksaan secara umum semua pesawat tersebut dinyatakan dalam keadaan rusak,  kecuali tiga yang masih dalam keadaan lengkap walaupun dalam keadaan rusak ringan.  Ketiga Pesawat Cureng ini me­rupakan pesawat yang siap terbang ketika terjadi perebut­an pangkalan oleh BKR dan lascar yang ada di Yogyakarta, namun batal karena kedatangan pasukan yang dipimpin oleh Suharto (mantan Presiden RI).   Waktu itu Suharto sempat taxi (memarkir pesawat) ketiga pesawat tersebut setelah para penerbangnya yang orang Jepang ditawan dan PU Maguwo berhasil direbut. Hanya dalam waktu satu hari yakni tanggal 26 Oktober satu pesawat Cureng dapat diperbaiki dan dinyatakan siap test flight setelah diberi tanda berupa lingkaran berwarna merah putih sebagai simbol bendera RI yang sekaligus menyatakan bahwa pesawat tersebut sudah menjadi milik Republik Indonesia.

Satu pesawat Cureng sedang diperbaiki di PU Maguwo Yogyakarta
Test flight dilakukan tanggal 27 Oktober 1945 pukul 10.00 selama 30 menit oleh Agustinus Adisucipto yang didampingi oleh Rudjito.    Dipilihnya Agustinus Adisucipto untuk test flight ini karena ia mempunyai wing penerbang yaitu Groot Militaire  Brevet.   Namun wing penerbang yang dimiliki adalah kualifikasi penerbang dengan pesawat Eropa, bukan pesawat Jepang.  Penerbangan ini tercatat sebagai penerbangan pesawat  beridentitas merah putih yang pertama di alam Indonesia merdeka oleh pemuda Indonesia sendiri.
Setelah penerbangan pertama itu, para teknisi terus bekerja memperbaiki pesawat – pesawat  yang ada di Maguwo. Pada awal Januari 1946, berhasil diperbaiki dan disiapkan  25 pesawat lagi hingga siap terbang.  Pesawat cureng tersebut kemudian menjadi kekuatan Pangkalan  Udara Maguwo yang sekaligus menjadi kekuatan Sekolah Penerbangan yang dipimpin oleh Agustinus Adisucipto.  Sekolah Penerbangan itu dibuka pada tanggal 15 November 1945. Karena itu pesawat cureng umumnya hanya diterbangkan oleh para kadet Sekbang.    Para kadet angkatan pertama sekolah penerbang ini tercatat 31
Tanggal 14 Januari 1946 salah satu pesawat cureng mengudara dari Pangkalan Udara Maguwo.  Namun naas pesawat Cureng tersebut mengalami kecelakaan. Waktu itu pesawat  diterbangkan oleh Iswahjudi dan Wiriadinata sebagai penumpang.   Kedua orang yang berada dalam penerbangan itu selamat.  Peristiwa ini merupakan kecelakaan pesawat cureng pertama  yang sekaligus merupakan kecelakaan pesawat pertama di alam Indonesia merdeka.  Benar juga apa yang dikatakan oleh para penerbang Royal Air Force (RAF) yang pernah datang ke Yogyakarta.  Para penerbang itu mengatakan “You are flying Coffin” (Tuan menerbangkan sebuah peti mati).
Kecelakaan pesawat tersebut ternyata tidak membuat ciut  nyali para penerbang muda waktu itu dan tidak berkesimpulan bahwa pesawat jenis Cureng tersebut tidak layak terbang malah menjadi tantangan bagi pelopor pendiri dan pejuang AURI untuk terus mengabdi kepada bangsa dan negara yang baru berdiri.  Dua hari setelah kecelakaan tersebut (tanggal 16 Januari 1946), satu pesawat  Cureng diterbangkan oleh Suyono untuk melakukan  tugas pengintaian di Laut Selatan.  Misi pengintaian  menggunakan pesawat Cureng itu atas perintah Agustinus Adisucipto.  Pesawat Cureng take off dari Pangkalan Udara Maguwo menuju Parangtritis, sampai jauh ke Selatan di atas Lautan Hindia. Dalam penerbangan itu, pesawat sempat masuk awan hitam tebal sehingga penerbanganya sampai kehilangan orientasi (disorientasi). Peristiwa ini pun dicatat sebagai operasi penerbangan pertama dalam rangka misi pertahanan di Indonesia merdeka. 
Sukses dengan fungsinya sebagai pesawat latih  melahirkan beberapa orang penerbang, pesawat  Cureng tercatat sebagai pesawat pertama yang digunakan dalam latihan terjun payung.  Latihan terjun payung pertama ini dilaksanakan tanggal 11 Februari 1946 di Pangkalan Udara Maguwo atas perintah Suryadi Suryadarma selaku kepala TKR jawatan Penerbangan.  Latihan terjun payung itu  menggunakan 3 pesawat Cureng yang masing-masing diterbangkan oleh A. Adisucipto, Iswahjudi, dan Makmur Suhodo.  Adapun para penerjunnya adalah Amir Hamzah, Legino dan Pungut.    Satu pesawat untuk satu penerjun.  Penerjunan ini merupakan peristiwa penting bagi TNI Angkatan Udara bahkan bagi TNI maupun bagi bangsa Indonesia bahwa  inilah awal dari munculnya pasukan para TNI.

Dua pesawat Cureng   mendarat setelah melaksanakan terbang Formasi
Pada tanggal 16 Maret 1946, sekali lagi H. Suyono  menerbangkan pesawat Cureng, kali ini bertolak dari Pangkalan Udara Bugis Malang menuju Utara untuk menyebarkan pamflet di atas kota Sidoarjo.  Dalam penerbangan itu ikut pula seorang montir pesawat, Sukarman.
Selain melaksana­kan latihan terbang solo, pesawat Cureng juga digunakan untuk latihan  terbang formasi  dan Cross Country (lintas daerah). Latihan terbang formasi dan lintas daerah dilakukan pada tanggal 15 April 1946 dengan pesawat Cureng.  Penerbang­­­nya antara lain  Husein Sastranegara, Tugiyo, Santoso, dan Wim Prayitno.   Cross country ini merupakan terbang formasi dan lintas daerah yang pertama dilakukan oleh penerbang-penerbang Indonesia.
Tanggal 12 Mei 1946 kembali Pesawat Cureng diterbangkan ke arah Timur dan mendarat di Lapangan Sekip (Pamekasan).  Penerbangan yang dipiloti oleh  Opsir Udara II  Sujono dan Opsir Udara III Wim Prajitno dengan misi  memperbaiki lapangan udara   tersebut sebagai persiapan guna penerbangan berikutnya.  Ikut serta dalam penerbangan itu dua orang montir pesawat yakni Naim dan  Dulatif.  Dalam penerbangan kembali  kedua pesawat terpaksa mendarat di Pangkalan Udara Bugis  Malang karena mengalami kerusakan  di bagian kaki rodanya.
Pada tanggal 21 Mei 1946 empat pesawat cureng mengudara menuju beberapa daerah di Jawa barat dan Jawa Timur. Dua pesawat Cureng menuju ke Serang Jawa barat.  Cureng pertama diterbangkan oleh  Opsri Udara II Husein Sastranegara sebagai yang disertai H. Semaun dan pesawat kedua dipiloti oleh Opsir Udara III Santoso disertai seorang penumpang bernama Soeharto.  Sebuah pesawat Cureng menuju ke Malang dengan penerbang Opsir Udara III Sunarjo yang disertai seorang  penumpang Suparman. Sebuah pesawat terbang Cureng lainnya diterbangkan oleh Opsir Udara II H. Sujono dan Komodor Udara Halim Perdanakusuma dalam penerbangan kearah Timur untuk mencapai Pulau Madura dan mendarat di sebuah tempat pembuatan garam, karena belum adanya pangkalan udara yang siap untuk didarati. Setelah lima hari mengadakan perjalanan ,  pada tanggal 25 Mei 1946 keempat pesawat tersebut  kembali ke Maguwo dengan selamat. 
Kemudian pada tanggal 10 Juni 1946, pada saat pembukaan Lanud Tjibereum Tasikmalaya diterbangkan 5 pesawat Cureng dari Maguwo dengan crew sebagai berikut :
-       Komodor A. Adisucipto dan Husein Sastranegara
-       Komodor Muda Udara dr. Abdurachman Saleh dan Tulus Martoatmodjo.
-       Opsir Udara Sujono dan Opsir Muda Udara Kaswan
-       Opsir Udara Wirjosaputro dan Opsir Udara Sunarjo.
-       Opsir Udara Iswahjudi dan Opsir Udara Suhodo.
Tanggal 8 Agustus 1946, sebuah pesawat Cureng diterbangkan dari Pangkalan Udara Maguwo Yogyakarta ke Pangkalan Udara Bugis Malang.  Adapun misi penerbangan yang dipiloti oleh Tugio adalah mengantarkan AS. Hananjuddin atas panggilan Divisi VIII Malang Imam Supeno. 
Pada tanggal 2 September 946 salah satu pesawat Cureng kembali mengalami kecelakaan dan ini adalah kecelakaan kedua pesawat Cureng setelah kejadian pertama pada tanggal 14 Januari 1946.  Pesawat jatuh di Cipatujah (Tasikmalaya) sewaktu pesawat melakukan pendaratan darurat yang mengakibatkan gugurnya Opsir Udara II Tarsono Rudjito.   Opsir Udara II Tarsono merupakan korban pertama akibat kecelakaan pesawat militer di Indonesi Merdeka.   Dalam rangka tabur bunga atas meninggalnya Tarsono, pada tanggal 13 September 1946, sebuah pesawat Cureng yang lain diterbangkan untuk melaksanakan tabur bunga dari udara yang diterbangkan oleh Husein Sastranegara.

Tampak gambar samping: Pesawat cureng berperan penting dalam penyebaran pamflet dalam rangka penumpasan pemberontakan PKI Muso
Pada tanggal 29 Juli 1947, digunakan untuk menyerang kedudukan musuh (Belanda) di kota Ambarawa dan Salatiga.  Pesawat Cureng diterbang­kan oleh Kadet Suharnoko Harbani dan Kadet Sutardjo Sigit.   Pesawat Cureng juga digunakan  oleh Kadet Udara I Aryono untuk membom Purwodadi dalam rangka Penumpasan PKI atas permintaan Gubernur Militer Jawa Tengah Kolonel Gatot Subroto.  Pada tahun 1948 saat meletusnya pemberontakan PKI Muso di Madiun pesawat ini digunakan untuk penyebaran pamflet, drooping obat-obatan dan logistik  bagi pasukan ABRI yang berada di daerah terpencil.
Dalam menumpas pemberontakan PKI Muso pada bulan September 1948, pesawat Cureng mendapat tugas menyebarkan pamflet kepada masyarakat agar tidak mengikuti pemberontakan PKI dan mendukung pemerintah untuk membasminya.  Untuk mengabadikan dan mengenang kiprah pesawat cureng ini, pada  tahun 1977 salah satu pesawat ini diabadikan di Museum TNI Satria Mandala. 
read more “CURENG PESAWAT KAMIKAZE”

Rabu, 30 Mei 2012

SEJARAH MERPATI NUSANTARA AIRLINES

 
 Awal November 1958, Perdana Menteri Indonesia Ir. H. Djuanda secara resmi membuka "Jembatan  Udara Kalimantan," yang menghubungkan daerah-daerah terpencil di Kalimantan, dimana moda transportasi lain sangat sulit dipergunakan. Tugas yang dipercayakan kepada Angkatan Udara Republik Indonesia untuk mengembangkan Jembatan Udara itu, berhasil mencapai kemajuan dalam sejarah perkembangan perusahaan angkutan udara nasional. Sebagai perkembangan yang berikut, berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 1962, maka pada tanggal 6 September 1962, ditetapkan pendirian Perusahaan Negara Merpati Nusantara yang bertugas menyelenggarakan perhubungan udara di daerah-daerah dan penerbangan serba guna serta memajukan segala sesuatu yang berkaitan dengan angkutan udara dalam arti kata yang seluas-luasnya.

Aset pertama perusahaan terdiri dari : 4 pesawat De Havilland Otter DHC-3, dan 2 Dakota DC-3 milik AURI. Tugas operasinya yang pertama ialah menghubungkan Jakarta dengan Banjarmasin, Pangkalanbun, dan Sampit, serta Jakarta-Pontianak.
Tahun 1963, ketika Irian Barat pindah dari tangan Belanda ke Pemerintah Indonesia, NV De Kroonduif, yaitu Perusahaan Penerbangan Belanda di Irian Barat diserahkan kepada GIA, termasuk 6 pesawat yang terdiri dari 3 Dakota DC-3, 2 Twin Pioneer dan 1 Beaver. Karena Garuda memusatkan perhatiannya pada pengembangan usahanya sebagai flag carrier, diberikannya semua konsesi penerbangan di Irian Barat dan fasilitas teknisnya kepada Merpati.
Tahun 1963 Merpati memperluas jaringan operasinya dengan menghubungkan Jakarta-Semarang, Jakarta-Tanjung Karang, dan Palangkaraya-Balikpapan, dan membuka juga rute-rute baru di Irian Barat.
Pada tahun 1966 armada Merpati diperkuat dengna 3 Dornier DO-28 dan 6 Pilatus Porter PC-6, sehingga armadanya berjumlah 15 pesawat yang beroperasi secara efektif didukung oleh 600 karyawan. Daerah operasi pun diperluas sehingga meliputi Jawa, Kalimantan, Sumatera Selatan, Nusa Tenggara Barat dan Irian Jaya.
Tahun 1969 Merpati dibagi dalam 2 daerah operasi, yakni Operasi MIB (Merpati Irian Barat) dan MOB (Merpati Operasi Barat), yang mencakup Jawa, Kalimantan, Surabaya, Sulawesi dan Nusa Tenggara. Pembagian ke dalam daerah-daerah itu bertujuan untuk memajukan operasi, administrasi, dan pengawasan. Sejalan dengan perkembangan dalam kegiatan dan fungsinya, Merpati kemudian mengubah namanya menjadi Merpati Nusantara Airlines, dan sejak itu MNA terkenal di kalangan masyarakat.
Untuk membantu pemerintah melangsungkan Pepera (Penentuan Pendapat Rakyat) tahu 1969 sampai di daerah-daerah tepencil yang sulit dicapai dengan moda transportasi lain, khususnya di Irian Jaya, Merpati secara aktif berpartisipasi dengan mengantarkan segala material dan personel pemilu dengan pesawatnya.
Di tahun 1970 Merpati sudah mampu mengembangkan operasinya dengan menerbangi rute-rute jarak pendek (feeder line operation), khususnya sejak pesawat HS-748 bergabung dengan armadanya. Perluasan operasi itu dapat berhasil berkat penerapan program yang tepat, dan adanya perkembangan organisasi serta manajemen yang tangguh.
Penerbangan Perintis
Pada tahun 1974 'Penerbangan Perintis" yang disubsidi pemerintah secara resmi diserahkan kepada Merpati untuk mendukung sektor transportasi, khususnya sub sektor transportasi udara yang mempunyai peran penting dalam mempertahankan kemajuan nasional.
Tujuan penerbangan perintis ialah :
- Membuka isolasi ke daerah-daerah yang terpencil dan juga menghubungkan kota-kota yang sulit
dicapai dengan moda transporatsi lain
- Melancarkan kegiatan administrasi.
- Membantu mewujudkan wawasan Nusantara dibidang politik, ekonomi, budaya dan sosial.
Menjadi Perusahaan Perseroan Terbatas (persero)
Dengan suksesnya perluasan jaringan transportasi udara, Merpati membuktikan prestasinya dalam memberikan dampak positif kepada perkembangan nasional.Berkat prestasi itu, pemerintah menaruh kepercayaan kepada Merpati, dan berdasarkan Peraturan Pemerintah No.70 tahun 1971, status Merpati dialihkan dari Perusahaan Negara (PN) menjadi Persero, yakni PT. Merpati Nusantara Airlines, sehingga memberi kesempatan yang lebih baik kepada Merpati untuk menerapkan program-programnya.
Dalam rangka mendukung pengoperasian armadanya, Merpati membangun berbagai fasilitas di banyak daerah seperti fasilitas Perawatan Pesawat / Hanggar di Ujungpandang dan Manado serta sistem komunikasi SSB. Tahun 1975-1977, Merpati melancarkan operasi berskala lebih besar dengan mengambil bagian dalam Penerbangan Haji dan Penerbangan Transmigrasi. Pada tahun 1976, Merpati membantu pengembangan pariwisata, dengan melakukan Penerbangan Borongan Internasional (Charter Flight), misalnya Manila-Denpasar VV dengan memakai pesawat BAC-111. Juga Los Angeles-Denpasar VV dengan memakai Boeing 707, kedua rute tersebut dihentikan tahun 1978.
Peraturan Pemerintah (PP) No.30/1978
Menyadari betapa pentingnya peran sektor transportasi dalam melaksanakan program perkembangna yang akan datang. Pemerintah memutuskan untuk memindahkan Penguasaan Modal Negara Republik Indonesia dalam PT. Merpati Nusantara Airlines ke PT. Garuda Indonesian Airways. Dengan tindakan itu, sesuai ketentuan dalam Peraturan Pemerintah (PP) No.30/1078, Merpati diserahi tugas-tugas berikut :

- -                  Melayani Penerbangan Perintis.
-                 Melayani Penerbangan Lintas Batas
- -                 Melayani Penerbangan Transmigrasi
- -                 Melayani Penerbangan Borongan Domestik
- -                 Dan kegiatan lainnya ditentukan oleh Rapat Umum Pemegang Saham
read more “SEJARAH MERPATI NUSANTARA AIRLINES”

Jumat, 04 Mei 2012

Riwayat T-33 Indonesia, Simbol perlawanan Hegemoni AS di Indonesia.

(T-33 Indonesia)

Sepintas lalu orang mungkin akan mengernyitkan dahi bila membaca judul tulisan ini, siapapun yang menyelami sejarah dunia perbangan militer Indonesia memang tak asing lagi bila bersua dengan pesawat ex Amerika dari Filipina yang didatangkan untuk menganti keperkasaan pesawat-pesawat era Soviet di indonesia. 

Paman Sam dengan dalih membangkitkan kembali kekuatan dan kesiapan Angkatan Udara Republik indonesia, “mengizinkan” Indonesia untuk membeli pesawat bekas pakai jiran kita yaitu Avon Sabre, dari Australia dan T-33 yang diboyong AS dari Filipina. Semurni itukah niat negeri patung Liberty itu untuk membantu Indonesia yang sempat menjadi rivalnya pada masa Bung karno?

Jual beli ejekan yang terselubung.

tak dapat dipungkiri setelah lungsurnya Bung Karno dan terputusnya hubungan dengan Soviet kala itu, membuat armada Tu-16 dan jejeran MIG Family terpaksa dikandangkan karena tak ada suku cadang yang memadai, titik krisis yang menggeluti dunia pertahanan Indonesia sampai pada puncaknya di tahun 1970-an. Untuk menguatkan kembali armada angkasa Indonesia maka operasi Garuda Bangkit dilangsanakan untuk memenuhi misi tersebut.

Disinilah peran Amerika cukup vital kala itu, karena memang hampir semua pesawat blok barat yang ada dimasa itu memang produk mereka, tak dipungkiri memang ada berkah yang dimiliki oleh TNI AU, misalnya perbaikan dan pembangunan pasilitas hanggar, selain tentunya kedatangan pesawat-pesawat ex jiran indonesia. Namun keberadaan pesawat-pesawat ini ternyata dibayar mahal, untuk mendapatkannya sebagian MIG-21 Indonesia harus direlakan untuk dibedah oleh tekhnisi Paman Sam demi mengetahui titik kelemahannya, pun demikian dengan bomber legendaris yang sempat menakutkan blok barat, Tuvolep-16 yang berakhir tragis, dilucuti agar tak lagi bebas mengaum diangkasa.

(jejeran T-33 yang baru datang dari Filipina)

Puaskah Paman Sam dengan semua itu? Rupanya masih belum cukup, demi mengerdilkan Angkatan Udara Republik Indonesia, negara yang pernah disebut yang terkuat dibelahan bumi selatan ini di ejek habis-habisan dengan barter yang tak sama nilainya, Bayangkan saja negara yang sebelumnya mampu membeli dan mengoperasikan jejeran MiG Familiy beserta armada Bomber yang bertekhnologi tinggi diganti dengan pesawat latih serang yang tak mumpuni kemampuannya jika tak ingin dikatakan kualitas kemampuan- dalam sudut pandang penerbang Indonesia- tak layak digunakan sebagai pesawat latih serang, bekas pakai pula. 

Maka dapat dipahami bantuan tersebut dilakukan paman sam kala itu karena memang dilakukan “setengah hati”, sebelumnya AS membenci angkatan udara Indonesia yang berhasil menunjukan superioritas bangsa Asia atas orang Barat yang tergeletak nasibnya diatas tanah keramat bernama Papua itu.

Angkatan udara Indonesia dibuat seumpama “orang sakit dari Asia”, pengerdilan kemampuan yang dibungkus rapi ini nampaknya bukan tak disadari oleh oleh para petinggi TNI AU, namun tentu saja untuk membalas perlakuan tersebut harus dapat dilakukan dengan cara elegan dan terhormat, sebab secara militer tentunya tak mungkin, apalagi indonesia memang memerlukan peralatan militer untuk mempertahankan kedaulatan bangsa, lalu bagaimana cara?

(T-33 dalam latihan Elang Malindo yang pertama)

Pesawat T-33 Indonesia yang didatangkan dari pangkalan Subik di Filipina tahun 1973 ini, diketahui sebagai pesawat yang payah, bagaimana tidak, Selain tidak dilengkapi armament, pesawat ini masih menggunakan radio UHF (model militer Amerika) serta adanya batasan manuver yang hanya plus 3G, betul-betul pesawat latih jet yang tidak bisa dibuat manuver sama sekali, jelas beda kelas dengan pesawat-pesawat yang pernah dioperaskan, –baik Fighter maupun Bomber,- yang pernah ditunggangi oleh penerbang kita di era 60-an.

Tak patah semangat, indonesia membalas perlakuan tersebut dengan memperbaiki kualitas terbang T-33, setelah dilakukan penguatan pada wing rod spar, barulah pesawat dapat melakukan full maneuver hingga plus 7g serta radio yang diubah menjadi VHF, standar komunikasi pesawat di Indonesia. Kejadian ini jelas jadi tamparan buat Paman Sam, tehnisi Indonesia dari Depo Logistik-30 Malang atas kajian Komando Logistik kala itu mampu memcahkan masalahnya dengan solusi yang jitu. 

Walaupun pelakunya para tehnisi yang disekolahkan di Amerika serta diikuti oleh personel AU AS yang bertindak sebagai Technician Representative, -wajar saja mereka yang memproduksi pesawat sehingga merasa perlu tau modifikasi apa yang dilakukan oleh Indonesia,- hal ini tetap tak dapat mengabaikan kenyatan bahwa para tekhnisi tak kalah hebat walau harus diadu dengan tehnisi Amerika sendiri, kemampuan para tekhnisi indonesia dengan cepat mempelajari dan menguasai pesawat ini memang mengagumkan. 

(T-33A, makin garang setelah di upgread jadi pesawat latih serang)

Dengan kemampuan baru tersebut, maka para pilot T-33 mulai melakukan latihan air-to-air manuver sebagai dasar manuver pesawat Kohanudnas. Prestasi tersebut tentunya sangat membanggakan.

Paman Sam kembali dibuat tercengang dengan kemampuan anak bangsa menguatkan pesawat yang tak layak digunakan sebagai pesawat latih serang tersebut, kali ini tamparan lebih keras diberikan melalui menguatan sistem persenjataan. Pesawat yang dari awal tak dilengkapi persenjataan ini oleh Indonesia ditingkatkan kemampuannya. 

Kegiatan mempersenjatai diri ini murni dilakukan tanpa campur tangan asing dan hebatnya lagi peralatan bidik (gun-sight) mempergunakan produk Timur yaitu gun sight bekas pesawat Ilyusin-28. Bayangkan saja muka petinggi AS begitu mengetahui T-33 yang sejatinya simbol ejekan mereka terhadap Indonesia ternyata mampu dimaksimalkan dengan baik oleh anak bangsa ini. 

Sebuah balasan yang cantik dan elegan, rasa gado-gado timur dan barat yang lezat ini tentunya tak selezat yang dirasakan oleh Paman Sam. Tapi apa mau dikata, Indonesia memang punya sejarah panjang sekaligus punya bakat menghidupkan kembali pesawat-pesawat yang hampir lunas nyawanya, tengoklah Curen dan Guntei dimasa tahun 1940-an, rupanya Paman Sam tak memprediksikan hal itu. Luntur rasa sombong dan tinggi hati mereka begitu dihadapi kenyataan, walaupun digencet sekuat tenaga, Angkatan Udara Indonesia masih mampu mengeluakan cakarnya membalas perlakuan tak senonoh Paman Sam yang mencoba melucuti kekuatan udara bangsa ini. 

(walau sudah pensiun, aura gaharnya masih terasa)

Kemampuan yang meningkat setelah di upgread memang pantas membuat Paman Sam gigit jari, setelah modifikasi armament pesawat TA-33A,- kode TA-33A adalah penomoran pada pesawat-pesawat T-33 yang dipersenjatai,- pesawat ini mampu membawa amunisi sebanyak 250 x 2 butir peluru 12,7 mm dan dua tabung rocket launcher jenis LAU (Launcher Airborne Rocket) – 68 yang dapat diisi tujuh rocket jenis FFAR 2,75 inci (Folding Fin Airborne Rocket) atau born hingga berat 50 kg setiap sayapnya.

Makin bertaji lagi pesawat-pesawat T-33 Indonesia, makin segan pula Paman Sam hendak menjual pesawat bekas pakai pada Indonesia, sejak saat itu baik OV-10 Bronco, F-5E, serta F-16 yang di didatangkan ke Indonesia merupakan barang baru dari pabrikannya. Pun demikian mengenai 24 ekor F-16 Hibah dari Amerika, Indonesia hanya mau mengambilnya setelah di upgread Blok-52, tentu saja armada F-16 kali ini bakal jadi “barang baru” kembali.

Sebagai bekas pakai yang berhasil di modifikasi oleh anak bangsa, T-33 memang tak terlalu panjang masa dinasnya, namun pesawat ini menorehkan prestasi yang cemerlang mengharumkan nama Indonesia, salah satunya dalam misi latihan bersama Indonesia malaysia bersandi Elang Malindo 1 yang diadakan di Butterworth, Malaysia. Ditangan para penerbang dan tehnisi Indonesia pesawat-pesawat ini mampu menunjukan kelasnya.
T-33 memang telah lama pensiun namun aura garangnya masih terasa kental walaupun sudah masuk museum. Disinilah T-33 memberikan arti penting menegakkan harga diri bangsa, khususnya lagi TNI AU dihadapan raksasa militer macam Paman Sam ini.
read more “Riwayat T-33 Indonesia, Simbol perlawanan Hegemoni AS di Indonesia.”

Minggu, 25 Desember 2011

The INDONESIAN military power


Sebutan pantas untuk ALUTSISTA milik indonesia!
karena Alutsista yang di beli pada th 60-an masih di pakai sebagai alat pertahanan bangsa!

Gak PERCAYA?simak video Di atas!


tetapi indonesia juga telah berusaha memajukan pertahanannya
Dan siap untuk menghancurkan musuh yang berani mengganggu kedaulatan bangsa!





DAN bukti indonesia SUDAH bisa membuat alutsista:







Dan Berikut Tank milik indonesia!:




Hinaan dari INDONESIA atau MALAYSIA?
B|



Selain Hinaan tadi berikut Uji Coba dan latihan MARINE OF INDONESIA:


Duta pertahanan Korea dtang di indonesia:




Dan pembebasan Sandra:




Peringatan HUT TNI yang tidak berjalan smepurna di pontianak:




Uji coba RUDAL LAPAN:


Sekian dan ters maju membangun bangsa!



Thanks to
 SCTV
METROTV

TVONE
RayTV
read more “The INDONESIAN military power”

Sabtu, 24 Desember 2011

Philippines Wants to Acquire F-16 Fighter Jets from US


F-16A di AMARC Arizona, Amerika Serikat (foto: F16net)


   
Filipina telah dilaporkan meminta AS untuk satu skuadron F-16 digunakan untuk jet tempur untuk meningkatkan pertahanan eksternal negara.

Sementara permintaan panggilan untuk F-16 untuk diberikan kepada negara untuk bebas, pemerintah Filipina bersedia membayar untuk setiap upgrade atau modifikasi yang mungkin diperlukan untuk pesawat, kata sumber.
Kesepakatan yang diusulkan dilaporkan melibatkan transfer menggunakan F-16 dari peralatan kelebihan AS sekarang disimpan di "aircraft boneyard " Angkatan Udara AS 'di Davis-Monthan Air Force Base di Arizona.
F-16 "Fighting Falcon" adalah salah satu multi-peran pesawat tempur paling serbaguna di Angkatan Udara AS. Telah digunakan sejak tahun 1974.
Pedang berderak-terakhir oleh China atas Kepulauan Spratly dan beberapa daerah lainnya di Barat Laut Filipina telah mendorong negara itu untuk mencari pesawat tempur udara unggul, sumber kata.
Filipina selalu bergantung pada AS untuk pertahanan eksternal karena Perjanjian Pertahanan RP-AS Reksa, sehingga negara ini telah dilihat tidak perlu untuk meningkatkan pertahanan eksternal di masa lalu.
Peristiwa baru-baru ini di Spratly, bagaimanapun, mendorong kebutuhan untuk memiliki pesawat tempur yang unggul untuk mencegah udara angkatan udara Cina dari kemasukan ke ruang udara Filipina.
Sekitar lima tahun yang lalu, Angkatan Udara mothballed yang tersisa delapan 1960-antik F-5 "Freedom Fighters" yang diperoleh dari Korea Selatan dan Taiwan karena mereka tidak cocok untuk para pejuang yang lebih modern sekarang digunakan oleh hampir semua negara beradab dan mahal untuk mempertahankan.
Dengan demikian, Angkatan Udara harus bergantung pada pesawat pelatih untuk mendukung kampanye pemerintah terhadap pemberontak separatis Moro dan komunis.
Sebelum pemerintahan Arroyo mundur, itu dibeli 18 buatan Italia SF-260 pelatih yang juga digunakan sebagai pesawat serangan darat cahaya.
Selain itu, Angkatan Udara telah jet pelatih S-211 yang juga digunakan sebagai pesawat patroli maritim dan pesawat serangan darat.
Sebagai pesawat patroli maritim, bagaimanapun, S-211s yang tidak efisien karena mereka kekurangan peralatan elektronik untuk "melihat" apa yang mereka berpatroli. Jadi, apa pesawat bisa "melihat" semua bahwa dua pilot bisa melihat dengan mata mereka.
Angkatan Udara memiliki lima S-211 jet.
F-16 "Fighting Falcon" adalah multi-peran pesawat jet tempur yang diproduksi oleh Lockheed Corp
Hal ini dimaksudkan untuk menjadi dan pesawat tempur superioritas udara.
Indonesia baru saja diakuisisi 24 F-16 pejuang. Hal ini juga digunakan oleh angkatan udara Taiwan, Korea Selatan, Thailand dan Singapura.
read more “Philippines Wants to Acquire F-16 Fighter Jets from US”

shAre

Entri Populer