Tampilkan postingan dengan label TNI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TNI. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Oktober 2014

SEJARAH ANGKATAN PERANG MODERN MILIK INDONESIA DI MASA PENJAJAHAN

Poster Propaganda KNIL
(Dokumentasi: Istimewa)
Dalam rangka memperingati Hari dibentuknya Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang lahir pada 5 Oktober 1945 .  Dan sebelum TNI masih ada kesatuan tentara lain yang merupakan awal dari terciptanya angkatan perang yang modern sekarang ini dimiliki Indonesia. Pasca kemerdekaan, Indonesia memiliki banyak pribumi yang telah menguasai ilmu-ilmu kemiliteran. Contohnya seperti A.H Nasution, Urip Sumaharjo, Gatot Subroto, hingga Panglima Besar Jenderal Sudirman. Secara umum TNI awal diisi oleh eks-anggota tentara KNIL yang di didik pada masa Hindia Belanda. Dan eks-anggota PETA dan HEIHO didikan pendudukan militer Jepang.
Banyaknya pribumi yang memiliki ilmu militer tak lepas juga dari adanya politik etis, yang memperbolehkan pribumi mengenyam pendidikan pada awal abad 2. Termasuk pendidikan militer untuk selanjutnya direkrut dalam dinas ketentaraan. Meskipun awalnya tujuan merekrut pribumi dalam kemiliteran untuk meminimalkan biaya apabila mendatangkan langsung dari eropa, dan sebagai strategi pecah belah Devide et Empra. 
Berikut penulis bahas pendidikan militer pada masa Hindia Belanda, mulai dari sejarah singkat terbentuknya KNIL, cara perekrutan, hingga institusi pendidikan militer. Tulisan ini berdasarkan tugas akhir yang penulis buat dalam bentuk Pape/Makalah dan tentu saja dengan sumber pustaka yang valid.

  1. Sejarah Terbentuknya Koninklijk Nederlansche Indische Leger (KNIL)
Tentara KNIL. (Dokumentasi: didaktika.unj.ac.id)

Keberadaan masyarakat pribumi Indonesia dalam bagian ketentaraan Kerajaan Belanda sebenarnya sudah ada sejak masa VOC. Jika dirunut lebih jauh, bisa dibuktikan dengan munculnya nama-nama seperti Untung Surapati, Kapitan Yonker, Zakarias-Bintang, Aru Palaka, dan lain-lain dalam ekspedisi VOC di Jawa maupun luar Jawa[1]. Sebelum tahun 1830 saat KNIL belum dibentuk dan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda sedang menghadapi perlawan Pangeran Diponegoro pelibatan pasukan dari unsur pribumi pun semakin terasa. 
Selama Perang Diponegoro berlangsung dari tahun 1825-1830, dikenal lah dengan istilah pasukan Hulptroepen yang berarti pasukan bantuan Belanda. Pasukan ini didapatkan dari Raja-Raja di seluruh Nusantara yang Pro-Belanda dengan cara disewa. Pemerintah Hindia Belanda pernah meminta bantuan pasukan diantaranya dari Raja-Raja berikut; Madura sebanyak 4000 orang, Menado 1280 orang, Buton 700 orang, Tidore 285 orang, Yogyakarta dan Surakarta juga dimintai bantuan tapi tidak diketahui pasti jumlahnya[2].
Meskipun Hindia Belanda menang dalam Perang Diponegoro 1925-1930, namun tidak dapat dipungkiri bahwa Hindia Belanda menerima kerugian yang amat besar. Menghabiskan banyak biaya dan tenaga yang tidak sedikit. Dalam perang itu Hindia Belanda masih menggunakan tentara Kerajaan Belanda yang didatangkan dari Eropa. Hal ini menandakan bahwa Hindia Belanda sebenarnya tidak siap bila secara tiba-tiba harus menghadapi perlawanan lokal. Bila tidak dibantu dengan Hulptroepen dan tipu muslihat Hindia Belanda kepada Pangeran Diponegoro, mungkin sejarahnya akan berbeda. Gubernur Jenderal Hindia Belanda kala itu Van Den Bosch terinsyafi dan sadar perlunya dibentuk sebuah pasukan baru di Hindia Belanda yang lebih modern, terorganisir, dan terstruktur. Lagipula mendatangkan pasukan Belanda langsung dari Eropa butuh biaya yang sangat besar.
Pada 4 Desember 1830 Gubernur Jenderal Van Den Bosch mengeluarkanAlgemen Orders voor het Nederlandschr Oost Indische Leger, sebuah keputusan yang menegaskan pembentukan sebuah tentara baru di Hindia Belanda[3]. Dari tahun 1830 tentara Hindia Belanda ini masih dinamai Oos Indische Leger, kemudian atas saran Raja Willem I tentara ini diberi status sebagaiKoninklijk Leger atau tentara kerajaan pada tahun 1836. Sehingga nama tentara tersebut berubah menjadi Koninklijk Nederlandsche Indische Leger (KNIL).
Komando Tertinggi Tentara Hindia Belanda (KNIL) dipegang oleh Gubernur Jenderal. Dibawahnya dipimpin oleh seorang Komandan Angkatan Darat sebagai Kepala Departemen Peperangan. Selain itu KNIL juga memiliki beberapa Dinas seperti Hoofdbereau & Dienst (Kantor Pusat dan Biro), Kavaleri, Zeni, Artileri, Infanteri, Jawatan Penerbangan, Bagian Intendan,Dienstplicht (kantor urusan personel cadangan), Kedokteran Hewan Militer, Administrasi Umum, Militarie Geneeskundigen Dienst (Dinas Kesehatan Militer), Topographischen (Dinas Topografi), dan masih dilengkapi pula dengan biro penarangan dan sejarah KNIL[4].


2.  Komposisi dan Perekrutan Tentara KNIL


Poster rekrutmen KNIL. (Dokumentasi Istimewa)

Tidak jauh berbeda dengan politik pemerintahan Hindia Belanda yang menerapkan Devide et Empera atau sering dikenal politik pecah belah, dalam tubuh KNIL juga demikian. Dalam ketentaraan KNIL yang merupakan multiras tergabung berbagai etnik, yang sistem pengelompokkannya bersifat kolonialistis dan diskriminatif[5]. Meskipun pribumi diperbolehkan menjadi tentara KNIL, tapi tentu saja tidak ada prioritas pribumi menduduki jabatan Bintara dan Perwira. Setelah perang Diponegoro, Golongan Eropa memiliki 307 perwira dengan 5699 bintara dan prajurit sedangkan Golongan Pribumi hanya 37 Perwira dan 7.206 bintara dan prajurit[6]. Diketahui pula dalam tubuh KNIL terdapat serdadu berkebangsaan lain (Non Belanda/Hindia Belanda/Non Pribumi), yakni yang didatangkan dari Ghana dan beberapa negara-negara Eropa.
Diskriminasi dalam tubuh KNIL sengaja diciptakan oleh Hindia Belanda. Yang menarik, gaji atau bayaran yang diterima tentara KNIL bukanlah berdasarkan kepangkatan atau keahlian, namun berdasarkan kesetiaan dan loyalitas kepada Hindia Belanda dan tentunya dengan Kerajaan Belanda sendiri. Jumlah pribumi dalam kedinasan di KNIL sebanyak 71% dari total 33.000 personel kekuatan Tentara Hindia Belanda tersebut. Beberapa suku pribumi yang jumlahnya hingga ribuan, yangbergabung dalam tubuh KNIL adalah Jawa, Ambon, dan Manado. Serdadu Jawa menyumbang bagian terbesar hingga 13.000 orang. Diskriminasi terlihat dari sistem pengupaha. Dengan urutan sebagai berikut dari tertinggi hingga ke paling rendah; Tentara Golongan Eropa, Ambon, Manado, Jawa.
Orang-orang Ambon dan Manado mendapatkan fasilitas lebih di KNIL. Contohnya apabila orang Ambon mendapat medali atau bintang jasa, maka ia akan mendapatkan uang tambahan sebesar 10.19 Gulden, sedangkan orang dari Jawa (termasuk Sunda) hanya 6.39 Gulden[7]. Contoh lain juga dalam hal fasilitas seperti uang saki, makanan, bantuan kesehatan, dan fasilitas diatas kapal/kendaraa. orang Ambon dan Manado akan duduk dan mendapatkan fasilitas kelas satu, sementara orang Jawa harus puas di kelas ekonomi saja. Bahkan, sebelum tahun 1905 orang-orang Jawa di KNIL tidak diberikan sepatu.
Terdapat 4 cara perekrutan tentara KNIL. Pertama, direkrut langsung dan didatangkan dari Eropa dan wilayah koloni Belanda. Kedua, mendaftarkan diri. Ketiga, mengambil pemuda-pemuda di desa yang bekerja sama dengan kepala desa atau lurah setempat. Keempat, meminjam bantuan prajurit dari Raja-Raja lokal. Adapun pasukan bantuan yang diambil dari raja-raja lokal ini contohnya seperi Legiun Mangkunegaran dan Barisan Madura. Bahkan Legiun Mangkunegaran diketahui ikut dalam ekspedisi menaklukkan Aceh[8]. Mereka akan diterjunkan dalam peperangan yang besar bersama prajurit KNIL regular lainnya, namun  justru Raja lokal tersebutlah yang berkewajiban membayar gaji pasukan yang biasa disebut pasukan keraton itu[9].


3. Institusi Pendidikan Militer Masa Hindia Belanda

Unit Infanteri KNIL (Dokumentasi: kaskus.co.id)

a.      Langverband School dan Kortverband School
Untuk dapat diterima sebagai tentara KNIL non-perwira, tersedia dua jenis yang dibedakan berdasarkan lama ikatan dinas. YakniLangverband yang artinya ikatan dinas panjang, dan Kortverbandatau ikatan dinas pendek.
Untuk dapat diterima di Langverband, ialah mereka yang dari kelas tiga sekolah dasar, malahan ada juga yang sama sekali belum sekolah. Pelatihan dan pendidikannya diadakan di Depo Purworejo. Mereka yang lulus mendapatkan pangkat sebagai Sparndig (Prajurit). Dari Langverband bisa masuk atau akan ditempatkan pada unit-unit Batalyon KNIL di seluruh Indonesia. Namun meskipun begitu paling tidak baru 10 tahun bisa menjadi Kopral. Dan apabila sudah menjadi Kopral selama 5 tahun barulah bisa ujian lagi untuk menjadi Sersan.[10]
Sementara itu Kortverband minimal harus lulusan HIS. Pendidikan dan pelatihannya di Gombong, Kebumen, selama 3 tahun. LulusanKortverband juga tak ubahnya seperti Langverband yang akan mendapatkan pangkat Prajurit dan masuk Batalyon apabila telah selesai menempuh pendidikan. Bedanya, lulusan Kortverband bisa langsung terus mengikuti Kader School untuk menjadi kopral[11].
b.      Inlandsche Officieren School (IOS)
Selain sekolah militer untuk mencetak para Prajurit dan Bintara, Pemerintah Hindia Belanda juga menyediakan sekolah untuk mencetak para Perwira Militer KNIL. Pada tahun 1852 dibukalah Sekolah Perwira Militer atau Indlandsche Officieren School di Meester Cornelis. Meester Cornelis ialah wilayah Jatinegara Jakarta saat ini.
            Sama seperti sekolah Hindia Belanda lainnya, prioritas pertama untuk sekolah perwira ini ialah untuk orang Belanda atau Indo-Belanda. Namun pribumi juga diperbolehkan asal mampu mengikuti seleksi. Dan tentunya karena ini adalah sekolah perwira, maka sebagian besar pribumi yang mendaftar berasal dari golongan ningrat/elite. Sebab agar dapat diterima menjadi calon kadet sekolah perwira ini, harus memiliki ijazah minimal MULO dan dikemudian hari ditingkatan menjadi AMS dan HBS minimal III tahun.
Lama pendidikan sekolah ini selama tiga tahun, dan apabila lulus akan mendapatkan pangkat Letnan II. Namun kedudukannya tetap lebih rendah dengan yang lulusan dari Koninklijk Militarie Academie (KMA) Breda, meskipun sama-sama Letnan II. Disinilah diskriminasi terjadi antara golongan eropa dan pribumi. Agar bisa disamakan dengan lulusan KMA, diadakan kursus lanjutan perwira di Batavia yang bisa diikuti setelah 2 tahun lulus dari Inlandsche Officieren School[12].
c.       Koninklijk Militarie Academie
Lahirnya Akademi Militer Kerajaan atau Koninklijk Militarie Academie (KMA)  di Hindia Belanda, sebenarnya tidak pernah direncanakan sebelumnya. Jika bukan karena Perang Dunia II KMA tidak akan pernah berdiri di Hindia Belanda. KMA merupakan akademi militer milik kerajaan yang terletak di Breda, Belanda. Tercatat ada 21 Pribumi yang berhasil sekolah di KMA Breda diantaranya mantan KSAU Suryadarma.
Koninklijk Militarie Academie (KMA) didirikan di Bandung pada 1 Oktober 1940. KMA Bandung sejatinya merupakan kelanjutan dari KMA Breda yang harus tutup karena Negeri Belanda sedang diduki Nazi Jerman pada Perang Dunia II. Sama seperti sekolah-sekolah Hindia Belanda, KMA juga memiliki sistem konkordansi. Yakni memaksa semua sekolah berorientasi barat mengikuti model sekolah di Netherland dan menghalangi penyesuaiannya dengan keadaan di Indonesia[13].
Didudukinya Negeri Belanda di Jerman membuat kesempatan belajar rakyat Indonesia semakin luas, sebab saat itu Hindia Belanda sedang mencari simpati dari rakyat. Untuk itu di KMA dibukalah program pendidikan perwira cadangan atau Corps Opleiding tot Reserve Offisieren (CORO). CORO dan KMA sebenarnya adalah dua program pendidikan yang berbeda. Kadet CORO belum tentu juga berarti kadet KMA. Karena bersifat perwira cadangan, maka kadet CORO hanya menerima pendidikan selama 9 bulan. Tapi dengan CORO inilah bisa menjadi batu loncatan agar diterima di KMA.
Meskipun begitu masuk CORO tidaklah mudah, hanya yang berijazah AMS atau HBS saja yang bisa diterima di CORO. Proses seleksi saja dilakukan secara ketat 2-3 bulan. Jika diterima kadet CORO akan mendapat pangkat Brigradir dan baru akan mengikuti pendidikan selama 9 bulan, pada tahap ini disebut tingkat pertama. Pada tingkat kedua diadakan seleksi lagi yang terpilih menjadi bintara-bintara militer atau Sersan. Tahap ketiga dilakukan seleksi lagi untuk memilih siapa yang terpilih untuk melanjutkan pendidikan menjadi kadet di KMA dan akan langsung duduk tingkat kedua/tahun kedua[14]. Yang tidak terpilih selebihnya menjadi pembantu letnan perwira. Setelah di KMA mereka akan menjalani pendidikan selama 2 tahun. Bila berhasil lulus akan dipromosikan menjadi calon perwira atau pembantu letnan.
Menurut TB Simatupang dalam Petrik Matanasi, pelajaran yang diberikan di KMA sama dengan daftar pelajaran di negeri Belanda, tentunya seluruhnya menggunakan Bahasa Belanda. Yang dipelajari antara lain pokok-pokok ilmu perang, strategi, taktik, dan juga pelajaran tentang pokok-pokok tugas tentara Belanda di Indonesia[15].
Lalu bagaimana bila mendaftar langsung ke KMA tanpa mengikuti CORO terlebih dahulu? Untuk dapat diterima di KMA, calon kadet harus memiliki kualifikasi pendidikan yang lumayan tinggi. Yakni lulusan HBS, AMS. Juga menerima dari lulusan Hogare Kweek School atau sekolah guru dan Middlebare Opleiding School voor Indlandsche School (MOSVIA) yakni sekolah menengah calon pegawai pangreh praja. Syarat usia dibatasi maksimal 20 tahun. Materi seleksi masuk sangat berat. Lama pendidikan yang ditetapkan adalah 3 tahun. Namun ini hanya perencanaan, sebab pada 1942 Jepang nyatanya telah berhasil menggantikan Hindia Belanda di Indonesia.
Menjadi anggota tentara KNIL ialah sebuah kebanggan tersendiri bagi seseorang, terlebih apabila dia berhasil menjadi Perwira. Gajinya juga terbilang lumayan. TB Simatupang menjelaskan, bahwa keinginannya masuk dalam kemiliteran KNIL dan menjadi perwira adalah jawaban untuk menepis anggapan gurunya dahulu saat di AMS. Sang guru menyebutkan orang Indonesia tidak bisa berperang dan anggapan Indonesia tidak akan pernah merdeka karena tidak mampu membangun angkatan perang yang baik dan menjaga persatuan[16].
d.      Sekolah atau Institusi Pendidikan Militer dan Kepolisian Lain
Selain Langverband dan Kortverband, serta IOS dan KMA. Juga ada program pendidikan Wajib Militer Belanda yang dinamakanNederlanndsche Militaire Militie atau Milisi Tentara Belanda. Lama pendidikan selama enam bulan dan dilakukan di Magetan Jawa Timur. Pengadaan program wajib militer ini dilakukan saat Perang Asia Pasifik yang merupakan bagian dari Perang Dunia II sudah dekat, yakni pada tahun 1941-1942. Lulusan dari Wajib Militer ini akan ditempatkan untuk mempertahankan objek-objek vital dan pemerintahan Hindia Belanda[17].
Keseriusan Pemerintah Hindia Belanda dalam mempertahankan Nusantara terutama dari ancaman dalam negeri, tidak hanya ditanggapi dengan membentuk dan melatih orang-orang pribumi dalam berbagai program atau sekolah militer. Namun juga dengan pembentukan Sekolah Kepolisian. Polisi Hindia Belanda meskipun dibawah Departemen Dalam Negeri, tapi tergadang juga diikutsertakan dalam pemadaman pemberontakan namun dalam skala kecil di perkotaan. Selain itu instruktur dan kepala kepolisian juga tidak sedikit diambil dari eks-KNIL.
Sekolah Kepolisian atau Politie School. Sekolah kepolisian dibentuk pada tahun 1914 di Weltevreden (Jatibaru, Jakarta) dengan tujuan awal sebenarnya untuk menyelenggarakan kursus dua tahun bagi calon komisaris polisi yang akan ditempatkan di kepolian kota yang baru dibentuk di Surabaya, Semarang, dan Batavia[18]. Untuk polisi-polisi dengan pangkat rendahan biasanya dilatih di kota atau Gubernemen masing-masing. Pada tahun 1915 sekolah ini mulai menyelenggarakan kursus setahun untuk calon pengawas polisi politieopziener. Pada tahun 1919 sekolah ini mulai menerima siswa untuk semua tingkat kepangkatan kepolisian. Hal ini karena melihat ekspektasi semakin banyaknya minat mendaftar ke kepolisian. Pada akhir tahun 1920 sekolah pindah ke Buitenzorg (Bogor).
Corak dualism pendidikan Belanda kembali terulang di Sekolah Kepolisian, pada 1922 sekolah tersebut dipisah menjadi dua bagian. Bagian pertama yakni dimaksud untuk menyediakan personel perwira menengah hingga pangkat paling bawah, seperti agen polisi, komandan pos jaga, kepala polisi, dan mantra polisi. Sedangkan bagian kedua dikhususkan untuk golongan eropa untuk mencetak perwira menengah dan perwira tinggi dengan jabatan komisaris dan polisi pengawas. Pada 1925 sekolah kepolisian untuk sekali lagi pindah ke Sukabumi[19].
Agar bisa diterima di sekolah kepolisian, seorang pribumi harus memiliki ijasah HIS atau ELS untuk polisi non perwira. Tinggi minimal 1, 58 meter dan berusia minimal 21 tahun. Untuk perwira syaratnya lebih berat, minimal mereka harus memiliki ijazah AMS atau HBS. Pelajaran yang diberikan antara lain mengenai hukum, geografi, bahasa dan etnografi, mata pelajaran populer seperti sejarah dan teknik. Tak lupa pula diberikan pelajaran semi militer seperti latihan menembak dan persenjataan, termasuk pelajara mengenai instruksi dan komando. Hal ini semakin jelas bahwa Polisi Hindia Belanda memang dipersiapkan sebagai lapis kedua dalam menjaga pertahanan dan keamanan negara[20].
Masih ada satu sekolah lagi, bahkan setingkat perguruan tinggi yang dibuka oleh Hindia Belanda menjelang masuknya Jepang pada 1942. Pada 2 Desember 1940 Jenderal Ter Poorten meresmikanHogare Krijgsschool (HKS) atau perguruan tinggi kemiliteran di Bandung. Latar belakang dibukanya HKS di Bandung sama seperti saudaranya, KMA. Yakni karena Negeri Belanda sedang diduki Nazi Jerman. HKS sebelumnya berada di Den Haag Belanda dan harus dipindahkan ke Hindia Belanda[21].

Sumber Pustaka:

[1] Supriya Priyanto, Sejarah Militer. Semarang, Jurusan Sejarah Fakultas Sastra UNDIP, 1994, hlm. 13
[2] Petrik Matanasi, KNIL Bom Waktu Peninggalan Belanda. Yogyakarta,Media Pressindo, 2007, hlm. 11
[3] Supriya, op.cit. hlm. 13.
[4] Petrik, op.cit. hlm. 19
[5] Supriya, loc. cit.
[6] Petrik, loc. cit. hlm. 21
[7] Ibid. hlm. 27.
[8] Iwan Santosa. Legiun Mangkunegaran 1808-1942: Tentara Jawa Perancis Warisan Napoleon Bonaparte. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. 2011, Hlm 341.
[9] Loc.cit. hlm. 22.
[10] Ibid., hlm. 103
[11] Ibid.,
[12] Ibid., hlm. 66
[13] Nasution. Sejarah Pendidikan Indonesia, Jakarta, Bumi Aksara, 1994. Hlm. 145.
[14] op. cit. hlm. 92
[15] Ibid., op. cit. hlm. 94
[16] Profil Let. Jen. (Purn) TB. Simatupang. Di download dariwww.sejarahtni.org tanggal 11 Juni 2014
[17] Op. cit. Hlm. 101-102
[18] Marieke Bloembergen. Polisi Zaman Hindia Belanda. Jakarta: Kompas Gramedia, 2009, Hlm. 256
[19] Ibid.
[20] Ibid., hlm. 259-260, dan 264.
[21] Op. cit. hlm. 100.



Unit Kavaleri KNIL (Dokumentasi Istimewa)
SUMBER
read more “SEJARAH ANGKATAN PERANG MODERN MILIK INDONESIA DI MASA PENJAJAHAN”

TIM AKROBATIK P-51 MILIK AURI


Pesawat P-51 Mustang
Proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 merupakan titik  kulminasi dari perjuangan  bangsa Indonesia, yang berarti bahwa sejak saat itu bangsa Indonesia telah menjadi negara yang berdaulat dan bebas menentukan nasibnya sendiri dalam suatu kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.  Namun pernyataan kemerdekaan yang diproklamirkan tersebut, bukanlah akhir dari perjuangan bangsa Indonesia, karena Kolonial Belanda baru mengakui kedaulatan Negara Indonesia pada 27 Desember 1949 sebagai tindak lanjut dari keputusan Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haaq, Belanda tanggal 23 Agustus - 2 November 1949 yang memaksa Pemerintah Belanda  mengakui kedaulatan Republik Indonesia Serikat (RIS).   Pengakuan kedaulatan ini kemudian ditandai dengan penyerahan kekuasaan, baik sipil maupun militer kepada bangsa Indonesia.   Salah satu fasilitas militer yang diserahkan adalah penyerahan pangkalan-pangkalan udara beserta fasilitasnya, yang dilaksanakan secara bertahap dan sebagai puncaknya adalah penyerahan Markas Besar Penerbangan Militer Belanda atau Hoofd Kwartier Militaire Luchtvaart (HKML) di Jalan Merdeka Barat Nomor 8 Jakarta Pusat kepada Angkatan Udara Republik Indonesia Serikat (AURIS) tanggal 27 Juni 1950.

Formasi Pesawat P-51 Mustang
Dengan telah diserahkannya seluruh fasilitas Militaire Luchtvaart (ML) kepada Pemerintah Indonesia, maka sejak saat itu AURI sudah memiliki kekuatan udara dengan berbagai macam jenis pesawat, diantaranya adalah pesawat tempur P-51D Mustang buatan Amerika Serikat, yang kemudian melalui Surat Keputusan KSAU Nomor 28/II/KS/51 tanggal 21 Maret 1951, P-51 Mustang ditempatkan di Skadron 3 Pemburu Pangkalan Udara Cililitan, Jakarta dan selanjutnya dipindahkan ke Lanud Abdulrachman Saleh, Malang pada 17 Juli 1962 dibawah Wing Operasional 002 Taktis.

Atraksi Pesawat P-51 Mustang pada HUT TNI Angkatan Udara 9 April 1951
P-51 Mustang adalah pesawat buru sergap jarak jauh yang sangat handal pada era perang dunia ke dua.  Mustang menjadi satu-satunya pesawat tempur yang mampu melangsungkan serangan secara mandiri maupun melaksanakan tugas pengawalan terhadap pesawat pengebom.  Karena kehandalannya, Mustang diproduksi ribuan dan digunakan oleh banyak angkatan udara, termasuk Indonesia.  Meskipun saat itu Indonesia menerima Mustang sebagai hibah dari Belanda, namun Mustang telah menjadi tulang punggung AURI dalam menjalankan berbagai operasi militer diwilayah NKRI, bahkan mustang digunakan Indonesia untuk melawan Belanda dan sekutunya dikemudian hari.

Duduk : Dono Indarto, Ramli, Ig. Dewanto Berdiri : Hamawi, Hapid, Roesmin, Leo Wattimena
Untuk mengawaki pesawat P-51D Mustang yang diserahkan tersebut, AURI mendatangkan para instruktur dari negara asal pesawat maupun instruktur-instruktur yang sebelumnya merupakan personel Militaire Luchtvaart.  Latihan yang dilaksanakan berupa penembakan udara ke darat dan dari udara ke udara, dengan menggunakan peralatan seadanya.  Melalui latihan yang terus dilakukan, maka kemampuan dan keterampilan para penerbang tempur AURI semakin meningkat, sehingga mampu membentuk satu tim aerobatik dengan menggunakan pesawat tempur P-51D Mustang.
Pembentukan tim aerobatik TNI Angkatan Udara yang pertama ini berawal dari latihan formasi pesawat yang dibimbing oleh salah satu instruktur penerbang dari Amerika Serikat bernama Leo Nooms.  Latihan yang diberikan adalah Red Race, kemudian formasi String, yaitu terbang berurutan lurus ke belakang, dengan instruktur di depan dan diikuti oleh penerbang di belakangnya.  Latihan ini dilakukan secara berulang-ulang sampai tingkat mahir.  Kemudian dilanjutkan latihan terbang formasi dengan dua pesawat, tiga sampai empat pesawat, dengan masing-masing pesawat saling berdekatan untuk melakukan gerakan bersama.  Semua latihan yang dilaksanakan dapat berjalan dengan sempurna, sehingga mendorong Leo Wattimena, Roesmin Noerjadin, Ignatius Dewanto, Mulyono, Hadi Sapandi dan Pracoyo, untuk membentuk tim aerobatik kebanggaan AURI pada waktu itu.

Moeljono, gugur ketika aerobatik di Surabaya pada 12 April 1951
Tim aerobatik P-51D Mustang berlatih disela-sela kegiatan operasi, sehingga tim ini tidak pernah muncul di depan publik, bahkan salah satu penerbangnya yaitu Mulyono, gugur dalam kecelakaan aerobatik di Surabaya dalam rangka atraksi di Kota Surabaya pada 12 April 1951.    Meskipun tim aerobatik P-51D Mustang tidak pernah tampil di depan umum dan tidak memiliki nama khusus seperti tim-tim aerobatik TNI Angkatan Udara lainnya, namun tim ini telah menjadi inspirasi bagi penerbang-penerbang AURI berikutnya untuk membentuk tim aerobatik sejenis, sehingga tim aerobatik P-51D Mustang dapat dikatakan sebagai perintis atau the pioneer dari tim-tim aerobatik kebanggaan bangsa Indonesia, khususnya TNI Angkatan Udara.

Sejak diterima AURI, berbagai operasi telah dijalankan P-51 Mustang, seperti Operasi Tegas di Sumatera pada 1955,  Operasi Sapta Marga di Medan pada 1958, Operasi 17 Agustus di Padang dan Pekanbaru pada 1958, Operasi Merdeka di Manado pada 1958, Operasi Trikora pada 1960-an, Operasi Dwikora pada 1964 dan Operasi Sambar Kilat di Kalimantan Barat pada 1966.  Pada awal tahun 1970-an pesawat P-51 Mustang atau lebih dikenal dengan julukan “Si Cocor Merah” ini dinyatakan grounded, dikarenakan usianya yang sudah tua, dan sukucadangnya yang langka. 
read more “TIM AKROBATIK P-51 MILIK AURI ”

Kamis, 10 April 2014

Drone dan Transformer-nya TNI AD

TNI AD meluncurkan 15 alat pertahanan hasil riset dengan Universitas Surya yang didirikan pakar fisika Prof Yohanes Surya. Alat-alat pertahanan itu dari pesawat tanpa awak alias drone hingga motor yang bisa terbang bak 'Transformers'.

Alat-alat itu dipamerkan di Mabes TNI AD, Jalan Veteran, Jakarta Pusat, Senin (7/4/2014). KSAD Jenderal Budiman meluncurkan alat-alat pertahanan ini di depan Pangdam se-Indonesia melalui teleconference.

"Riset ini pada akhirnya digunakan untuk kemandirian bangsa dan negara, sebab ada yang langsung berguna sebagai alat pertahanan negara. Kemudian dapat bermanfaat untuk negara dan masyarakat. Dengan hasil dari riset ini, kita bisa menghemat pengeluaran negaera karena tidak perlu membeli alat dari luar," kata Jenderal Budiman dalam sambutannya.


Budiman memaparkan beberapa hasil riset itu antara lain open Open Base Transceiver Station (BTS), radio VHF, battle management system (BMS), peralatan konversi BBM ke BBG, GPS tracking system, Unmanned Aerial Vehicle (UAV) Autopilot alias Drone, simulasi menembak dengan laser gun, jammer perusak sinyal, alat pengendali senjata jarak jauh hingga Roadble Grycopter yaitu motor yang bisa terbang seperti helikopter bak dalam film Transformer.


"Dana dalam riset ini sebesar Rp 31 miliar untuk 15 riset, dana yang digunakan dari APBN hanya kecil," imbuh Budiman.

Sedangkan pendiri Universitas Surya, Prof Yohanes Surya, mengatakan riset ini adalah hasil dari riset ilmuwan-ilmuwan Indonesia yang dipanggil pulang kampung.

"Ilmuwan kita bisa bersaing dengan negara lain. Ilmuwan hebat kita di negara lain kita panggil pulang, sehingga kita tidak perlu takut. Kita sudah sejajar dengan negara lain," tutur pria yang tenar dalam mendidik anak-anak sekolah dalam Olimpiade Fisika Internasional dan banyak di antaranya menjadi pemenang.

read more “Drone dan Transformer-nya TNI AD”

Sabtu, 28 Desember 2013

Pemain Timnas yang lahir dari TNI-AD

Satu lagi sosok satria pembela persepakbolaan nasional lahir dari kawah chandra dimuka TNI Angkatan Darat, dia adalah seorang prajurit muda yang kerap mewarnai perhelatan Tim Garuda yang dihormati kawan sekaligus disegani lawan. Figur anak muda kelahiran Jepara, 14 Juni 1992 itu terlahir bernama Agung Supriyanto. Diawali dari hobinya bermain sepak bola sejak duduk di kelas dua sekolah dasar di Jepara, kemudian ia mendaftarkan diri pada sekolah sepak bola. Di kelas lima, Ia terpilih memperkuat SD Negeri 5 Bangsri Jepara untuk mewakili sekolahnya mengikuti pertandingan sepak bola antar sekolah dasar di wilayahnya. Setelah lulus SD, berkat kepiawaiannya mengolah si kulit bundar, Ia pun mendapatkan tawaran untuk bersekolah di SMP Negeri 1 Jepara. Hingga pada suatu ajang pertandingan sepak bola, Ia kembali berhasil menunjukkan prestasinya mengolah bola, sehingga menjadikan sekolahnya menjadi juara. “Syukur Alhamdulillah, dari kelas satu hingga kelas tiga, sekolahku dapat juara terus”, ucapnya.
Prestasinya yang gemilang tersebut membuat anak tunggal dari pasangan Purbonodan Kasmirah ini ditawari masuk SMAN 1 Jepara. Pada saat menempuh pendidikan di SMAN 1 Jepara, lagi-lagi pemuda lajang ini mampu mengharumkan sekolahnya melalui prestasi sepak bola menjadi juara. Setelah lulus dari SMAN 1 Jepara, kemudian Agung mendapat tawaran dari guru-gurunya yang lebih mengenal bakatnya untuk masuk Sekolah Calon Bintara (Secaba) TNI Angkatan Darat khusus sepak bola atau yang lebih dikenal dengan Secaba Sus Sepak Bola Kartika Nusantara. Sekolah Calon Bintara Sepak Bola tersebut diprakarsai oleh Jenderal (Purn) George Toisutta. Bermula dari sanalah, Ia menyambut tawaran itu dengan mengikuti seleksi di Semarang, hingga ia terpilih menjadi salah satu dari 16 peserta seleksi dari seluruh Jawa Tengah.
Setelah lolos tes di Semarang, pemuda yang juga pengagum Bambang Pamungkas ini pun melanjutkan proses seleksi di tingkat pusat, yaitu di Bandung, Jawa Barat. Pada seleksi akhir tersebut lagi-lagi Ia terpilih menjadi salah satu dari 30 peserta dari seluruh Indonesia yang lolos tes. Seiring berjalannya waktu, setelah menempuh pendidikan khusus sepak bola di Secaba TNI Angkatan Darat selama 1,5 tahun, Ia mendapatkan tawaran bermain bola dari pelatih Danurwindo yang telah mengamatinya sejak melaksanakan pendidikan di sekolah sepak bola, untuk bermain di PPSM KN Magelang yang merupakan Divisi Utama Liga Primer Indonesia. Setahun memperkuat PPSM KN Magelang, Ia direkomendasikan oleh Danurwindo untuk mengikuti seleksi Timnas Indonesia U-22, dan akhirnya terpilih untuk ikut membela timnas besutan Aji Santoso. Menurutnya, mendapat kesempatan membela timnas merupakan sebuah kebanggaan bagi setiap pemain. “Saya merasa bangga bercampur haru. Hal ini merupakan sebuah mimpi yang menjadi kenyataan bagi saya dapat membela timnas,” ujarnya.
Sebagai anggota militer, sebenarnya ada banyak hal yang bisa mendukung kariernya di klub PPSM KN Magelang maupun timnas U-22, diantaranya adalah dalam hal pembentukan karakter dan masalah kedisiplinan. Ia pun mengaku, menjadi pemain sepak bola merupakan cita-citanya sejak kecil. Berkat ketekunan dalam berlatih, dia pun bisa masuk ke klub yang dilatih oleh pelatih senior Danurwindo, serta akhirnya bisa juga memperkuat timnas. “Akhirnya cita-cita kecil saya kesampaian.
Saya sangat bersyukur dengan pencapaian ini. Ini adalah awal untuk meraih prestasi menuju ke arah yang lebih baik”, ungkap laki-laki pengagum pesepakbola asal Brazil Ronaldo. Oleh karena itu, melalui prestasi yang baru dirintisnya tersebut, Ia berupaya penuh mendedikasikannya untuk kedua orang tuanya, teman, dan orang-orang terdekat yang mendukungnya selama ini termasuk atasannya mulai dari Kasad, para Asisten Kasad, Ketua PSAD, serta Danrindam III/Siliwangi. “Biasanya menjelang digelarnya pertandingan, para komandan saya menelepon memberi support”, ungkap remaja berpangkat Serda ini. Bukan hanya itu saja, setiap usai pertandingan, Ia juga mengaku kebanjiran ucapan selamat dari para atasannya itu, apalagi ketika pemain yang pernah membela klub Persijap Jepara U-21 itu mencetak gol pengunci kemenangan Garuda Muda atas Timor Leste pada babak kualifikasi Piala Asia AFC U-22 beberapa bulan yang lalu. “Saya memang cukup dekat dengan para komandan saya, kata mereka, saya sudah dianggap seperti anak sendiri”, tambahnya.
Walaupun prestasi yang ditorehkan baru seumur jagung, hal ini tidak menyurutkan prajurit lajang pemegang nomor punggung 18 di timnas PSSI U-22 untuk terus berprestasi di setiap event pertandingan, baik di kancah nasional maupun internasional. Hal ini dibuktikannya sampai sekarang pun Ia masih dipercaya oleh pelatihnya Aji Santoso untuk melakukan latihan bersama dengan salah satu pemain top lainnya seperti Andik Vermansyah di PSSI U-22 dalam rangka persiapan untuk menghadapi Sea Games 2013. Apalagi Ia telah dapat mewakili anggota TNI Angkatan Darat di timnas yang tentunya menjadi tolok ukur keberhasilan program Secaba Khusus Sepak Bola Kartika Nusantara. Tahun ini Kartika Nusantara telah menciptakan 18 pemain baru dari TNI Angkatan Darat yang berstatus pemain profesional yang bergabung di Divisi Utama PPSM KN Magelang. Hal ini merupakan terobosan dalam pembinaan sepak bola di tubuh TNI Angkatan Darat.
Dengan adanya kolaborasi dari berbagai pihak dibawah koordinasi Bapak Donny Miraza yang menyertakan tenaga profesional di sepak bola TNI Angkatan Darat seperti pelatih Danurwindo dan lainnya, Agung dan teman-temannya sesama prajurit pesepak bola bisa mencapai ini semua, karena materi yang diberikan oleh pelatih, sama seperti latihan yang dilakukan oleh timnas saat ini. Atas pertimbangan tersebut, maka Ketua PSAD berupaya menjalankan program Kartika Nusantara untuk memenuhi sarana dan prasarana latihan serta program latihan dalam pencarian bibit unggul guna mendukung timnas PSSI generasi ke depan. Ketika ditanya bagaimana konsep persiapan pembinaan atlet sepak bola untuk prestasi yang baik, secara terbuka Ia menjelaskan bahwa dalam pembinaan ini ada beberapa persyaratan yang tidak bisa ditinggalkan, diantaranya atlet harus selalu dalam keadaan sehat, baik itu sehat jasmani maupun rohani. “Atlet harus mempunyai mental dan fisik yang selalu terlatih; dapat menguasai teknik, taktik, dan strategi yang telah diajarkan pelatih dalam setiap materi yang diberikan dengan serius; makan makanan yang bergizi seimbang dengan tenaga yang dikeluarkannya, serta istirahat yang cukup”, ujarnya mantap. Dapat bermain kolektif, penuh konsentrasi, dan berupaya menang dalam setiap pertandingan. Dalam latihan dibutuhkan pelatih yang berkualitas, profesional, bukan sekadar pelatih sepak bola biasa serta tidak lupa untuk selalu berdoa dan memohon doa restu dari orang tua, keluarga dan handai taulan serta para atasan,  agar semua yang diinginkan dapat mencapai hasil yang memuaskan.
Dengan usia yang masih 20 tahun, langkah karier Serda Agung Supriyanto di tingkat sepakbola Indonesia masih sangat panjang. Ia berharap bisa menjadi pemain profesional dan dapat bergabung dengan Persija Jakarta bermain bersama sang idolanya yaitu Bambang Pamungkas dalam satu tim. Peluang untuk menjadi penerus Bambang Pamungkas sebagai ujung tombak andalan Timnas senior pun sangat terbuka lebar bagi pemain yang berprestasi, bahkan bisa melebihi pencapaian idolanya sebagai pencetak gol terbanyak. Sebagai prajurit TNI Angkatan Darat, ia juga memiliki kewajiban untuk memperkuat korpsnya dalam wadah Persatuan Sepak bola TNI Angkatan Darat (PSAD) jika tak lagi menjadi pemain profesional, sehingga akan kembali ke markas dan menjadi seorang militer yang sapta margais. Selamat berjuang Serda Agung, berikan hasil maksimal untuk Indonesia, ciptakan gol-gol indahmu ke gawang lawan, dan gapailah mimpimu untuk membawa Timnas menjadi Juara ..!
read more “Pemain Timnas yang lahir dari TNI-AD”

Jumat, 04 Mei 2012

Sekilas Mengenai Panser TNI.


Dalam tulisan sebelumnya yang bertajuk, “Selamat Datang Tank TNI di Bulungan’, dalam tulisan tersebut saya membahas mengenai rencana Yonkav atau Yonif Kavaleri yang akan di aktifkan di Bulungan beberapa tahun mendatang serta rencana pembelian sejumlah Tank kelas berat atau MBT yang akan ditempatkan disana. Pada tulisan kali ini, sebagai tambahan saya juga akan membahas mengenai jenis-jenis panser TNI AD. 
Berbeda dengan Yonif Infantri yang bisa beranggotakan 600-1000 personil, Yonif Kavaleri tak selalu demikian tergantung jenis dan jumlah kendaraan lapis baja yang digunakan. 

Kekuatan utama dari Yonif Kavaleri sendiri terdiri dari dua jenis yaitu Tank dan Panser, istilah persenjataan ini mengacu pada bentuk kendaraan lapis baja tersebut. Tank untuk kendaraan lapis baja menggunakan penggerak rantai sedangkan panser di digerakan oleh ban sehingga dikenal dengan istilah Wheeled Armoured Vehicles atau Kendaraan Tempur Beroda.

Yonif Kavaleri di Indonesia, ada yang hanya berkekuatan Tank saja begitula dengan panser, namun ada juga yang merupakan gabungan Tank dan Panser. 

Sekilas mengenai Panser TNI.

Istilah Panser atau panzer ternyata tak selalu sama digunakan diberbagai negera, di Indonesia Panser memang identik dengan kendaraan tempur lapis baja beroda. Menariknya istilah Panser atau Panzer dalam sejarah perang dunia ke-II sebenarnya adalah jenis Tank buatan Jerman yang diakui kemampuannya, berat dalam bobot namun lincah dimedan tempur.Istilah Panzer memang dari bahasa Jerman lawas yang artinya kurang lebih Baju Zirah.

(Iring-iringan BTR-50 Marinir saat bertugas di Aceh beberapa tahun yang lalu)

Panser merupakan bagian dari tulang punggung Yonif Kavaleri di Indonesia selain Tank. Pada awalnya kendaan lapis baja khususnya dalam perang dunia pertama lebih banyak menggunakan kendaraan tempur beroda, namun dimasa itu kendaraan ini dianggap kurang battle broven karena strategi yang digunakan dimasa itu adalah membuat garis pertahanan berupa parir-parit yang memanjang, sehingga kendaraan tempur beroda praktis tak mampu menjangkaunya. Kelemahan lain adalah ban yang digunakan saat itu teknologinya memang tidak secanggih saat ini, inilah yang kemudian menjadi titik penting dari revolusi keberadaan Tank dalam sejarah perang.

Sudah habiskah riwayat kendaraan tempur beroda? ternyata tidak, justru dalam beberapa pertempuran penting khususnya mendekati akhir masa kekalahan poros Axis pada perang dunia ke-II panser-panser ini digunakan sebagai alat mobilitas senjata anti tank.

Di indonesia, umumnya panser di bagi dua jenis yaitu tipe Armoured personnel carrier atau APC yaitu kendaraan tempur lapis baja ringan yang dibuat untuk mentransportasikan infanteri di medan perang.

APC biasanya hanya dipersenjatai senapan mesin, tapi varian-variannya bisa saja dipersenjatai meriam, peluru kendali anti-tank, atau mortir. Kendaraan ini sebenarnya tidak dirancang untuk melakukan pertarungan langsung, melainkan untuk membawa tentara secara aman dilindungi dari senjata ringan dan pecahan-pecahan ledakan. Dewasa ini APC bisa menggunakan roda biasa maupun roda rantai.

(Saracen si Crokodile, Panser sepuh yang seharusnya sudah pensiun tapi masih punya taji saat bertugas di Aceh)

Selain itu ada tipe Infantry fighting vehicle atau IFV yaitu pengangkut infanteri lapis baja yang memiliki persenjataan yang lebih berat, dan bisa digunakan untuk pertarungan langsung. Kendaraan ini memiliki lapisan pelindung yang lebih tebal dari pengangkut personel lapis baja, dan memiliki persenjataan yang bisa menghancurkan pengangkut personel lapis baja lawan, seperti meriam otomatis dan peluru kendali anti-tank. Kendaraan seperti ini sudah dipakai untuk menggantikan peran tank ringan, digunakan untuk pengintaian, serta dipakai juga oleh satuan penerjun payung yang tidak mungkin membawa tank yang berat.

Dewasa ini panser-panser memang didesain memiliki kemampuan hebat, kelemahan-kelemahannya seperti tak mampu meloncati parit dan ban yang mudah pecah, diatasi dengan berbagai kemampuan teknologi sasis dan suspensi yang mumpuni. Untuk panser beroda ban, selain panser 4x4 ada juga panser dengan konsep ban 6x6 dan 8x8 sehingga lebih memudahkan saat manuver melahap medan berat. 

Begitupula teknologi ban, dewasa ini panser-panser umumnya mulai mengadopsi teknologi run flat, artinya bila ban kempes, panser tetap bisa melaju sampai jarak 80 kilometer untuk jarak aman untuk mengganti ban. Panser Anoa buatan Indonesia juga memiliki kemampuan yang tak kalah dalam hal teknologi ban, desain ban dibuat keras sehingga tidak mudah pecah. 

Di Indonesia sejarah pembelian panser secara besar-besaran sempat terjadii pada masa Bung Karno, namun sebelumnya jenis kendaraan tempur lapis baja pernah pula dikembangkan oleh Belanda semasa Indonesia masih bernama Hindia-Belanda. Kendaraan tempur lapis baja itu bernama Overvalwegen, kendaraan ini punya dua versi yaitu mengangkut pasukan dan versi senjata berat, menariknya Overvalwegen juga dikembangkan diatas rel kereta api.

Pembelian panser bersamaan dengan pembelian tank dan jumlah besar yang didatangkan tidak hanya dari Rusia namun juga dari Prancis bahkan Inggris. Dimasa Orde baru, panser kebanyakan di datangkan dari Amerika dan Inggris.

(keterbatasan tak menghalangi tugas prajurid pengawal NKRI)

Kurang harmonisnya hubungan Indonesia-Rusia dimasa Orde Baru dan sempat mengalami embargo alutsista oleh barat khususnya Amerika praktis membuat kemampuan panser menurun. Inilah yang kemudian membuat Indonesia melakukan program retrofit yaitu mencakup penggantian mesin dan persenjataan serta perawatan kualitas baja panser dan tank. Sehingga tak selalu benar bahwa panser-panser maupun tank Indonesia sudah cukup uzur dan tidak mampu menjalankan tugasnya, sebab kualitas mesin dan senjata yang kemampuannya selalu diupgread dan kualitas baja yang selalu terpelihara mematahkan peryataan miring tentang kemampuan panser-panser indonesia. 

Hubungan Indonesia-Rusia yang mulai kembali harmonis dalam satu dekade terakhir menjadi angin segar bagi modernisasi militer indonesia, ini membuka peluang ketersedian alutsista modern bagi Indonesia karena Rusia sepakat untuk tidak mengembargo Indonesia berbeda dengan negara-negara barat.

Bahkan pemerhati militer Rusia begitu kagum dengan kemampuan para insinyur Indonesia, -khususnya pada Direktorat Peralatan Bengkel Pusat Peralatan TNI-AD dan PT. Pindad- karena produk Panser dan Tank di era Presiden Sukarno yang dibeli dari mereka seperti BTR-40, BTR-50 P dan PT-76 ternyata masih mampu menjalankan tugasnya dengan kualitas kesiapan yang baik walaupun mesin dan pesenjataannya telah diganti.
Tak hanya disitu Panser-panser ini juga diupread kemampuannya dengan ditambahkan teknologi komunikasi terbaru. BTR-40 bahkan ditambah dengan turet putar sehingga mampu memberikan perlindungan lebih pada penembak. 

Saat ini arsenal panser dan tank Indonesia telah melakukan modernisasi, produsennya pun beragam selain dari Rusia, Amerika, Inggris dan Prancis, ada juga dari Afrika Utara serta Korea. Diantaranya merupakan produk-produk yang didatangkan pada tahun 1970 hingga 2011 seperti Tank Scorpion, APC Alvis Stromer, VAB Renault, Caspir-MK3, V-150, BTR-80, BMP-2 dan BMP-3F, plus LVTP-7.

APR-1 dan Revolusi Panser Indonesia.

Indonesia tentunya tak puas dengan hal ini. PT. Pindad dan PT. Dirgantara Indonesia juga kemudian merancang Panser secara madiri, khususnya dimasa konflik aceh antara TNI dan GAM. 

(APR-1, si kijang kecil yang lincah dan gahar)

Indonesia dilarang oleh negara-negara barat untuk menggunakan arsenal yang dibeli dari mereka. Pemerintah Inggris misalnya menyatakan keberatan bila Tank Scorpion dan Panser Alvis Stromer yang dibeli dari mereka digunakan untuk menumpas militan GAM. Pemerintah Inggris bahkan mengancam akan mengembargo suku cadang bila Indonesia tetap menjalankan niatnya menggunakan Tank Scorpion dan Panser Alvis Stromer, ini bukan kali pertama Indonesia diperlakukan seperti ini oleh negara barat.

Dalam kondisi serba sulit seperti itu, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto pada suatu kesempatan meminta Pindad membuat kendaraan pengangkut personel untuk mengisi kebutuhan TNI. Tanpa banyak gembar-gembor PT. Pindad melakukan unjuk gigi dengan membuktikan kemampuan mereka memenuhi kendaraan lapis baja untuk menunjang keselamatan personil TNI di Aceh. Ini menjadi berkah bagi perusahaan dalam negeri seperti PT. Pindad untuk menunjukan kemampuan mereka, tidak hanya dalam hal senjata perorangan dan peluru, Pindad juga mulai membuat panser 4x4 di ikuti panser kemudian 6x6.

Menariknya karena karena terdesak oleh waktu dan banyaknya kebutuhan akan lapis baja yang diterjunkan selama operasi pemulihan keamanan di Aceh, PT. Pindad dengan jitu mendesain panser lengkap perlindungan yang diberikan pada bagian kaca serta ditambahkan dengan turet penembak diatas mobil, jadilah panser pertama dan sederhana milik PT. Pindad yang diberi nama Panser APR-1 atau angkut personil sedang. 

(Kreatif, Truk sipil pun disulap jadi kendaraan angkut personel tahan peluru)

Soal persenjataan, APR-1 memang pantas membikin ciut nyali para perusuh, APR-1 mampu memanggul mulai dari pelontar granat otomatis AGL-40, senapan mesin berat (SMB) kaliber 12,7 mm, senapan mesin sedang (SMS) kaliber 7,62 mm hingga pelontar granat kaliber 60 mm. Di tenagai mesin Isuzu light truck 120 ps kendaraan ini bisa dipacu hingga 120 Km per jam dengan kapasitas 12 orang sehingga cocok untuk untuk melakukan pengejaran terhadap musuh. 

APR-1 merupakan panser yang memang sudah terbukti kehandalannya alias battle proven, bagaimana tidak dari 40 panser yang dikirim selama bertugas hanya 2 buah yang rusak itupun karena faktor tehnis semata, satu rusak karena kecelakaan dan yang terakhir karena terjangan Tsunami.

Tak hanya itu, PT. Pindad juga melapisi Truk-truk pengangkut personil milik Polri maupun TNI dengan menambahkan pelindungan body truk yang dilapis dengan baja tahan peluru. Ide brilian ini bukan hanya memberi perlindungan lebih pada personil tapi juga efek gentar bagi militan GAM. Truk yang dilapis baja tahan peluru ini diambil dari platporm Truk Isuzu yang memang banyak digunakan oleh kesatuan-kesatuan TNI/Polri, walaupun tidak dilengkapi dengan turet penembak seperti yang dimiliki oleh APR-1, namun disisi kanan dan kiri Truk dilengkapi dengan lubang penembak. Sama seperti APR-1 Truk ini juga diberi perlindungan pada bagian kaca dan bagian depan dengan plat baja. 

Bila melihat sepintas Truk pengangkut personil racikan Pindad ini mengingatkan saya pada strategi yang pernah di terapkan oleh Admiral Yi Soon Shin yang melapis kapal-kapal angkatan laut Dinasti Joseon Korea pada abad-17 dengan baja, sehingga kapal tersebut diberi nama Kapal Kura-kura atau Geobukseon.

(Geobukseon darat made in Pindad)

Dengan bermodal kapal seperti ini, bangsa Korea berhasil menghalau serbuan tentara Jepang yang dari segi kuntitas lebih unggul dari korea dalam pertempuran legendaris diselat Mriyongyang ,- pertempuran hebat ini dikemudian hari melahirkan legenda 13 vs 333. artinya 13 kapal perang terakhir angkatan laut Joseon melawan 333 kapal perang Jepang-. Strategi yang sama diterapkan oleh Pindad dengan memanfaatkan Truk-truk militer yang ada dan dilapis dengan baja merupakan sebuah ide yang memang brilian.

APC Anoa, Master Piece Panser Indonesia.

Dalam perkembangan selanjutnya, PT. Pindad dengan dibantu oleh insitusi lain seperti BPPT, ternyata tak puas hati dengan Panser 4x4 sebelumnya. Dengan kerja keras yang tak kenal lelah Pindad kemudian menghasilkan Panser Anoa Indonesia yang makin dikenal dan diakui oleh dunia internasional.

Panser Van Bandung ini sepintas agak mirip dengan model panser buatan Renault, Prancis yaitu VAB. Tak salah memang bila ada anggapan seperti itu, karena VAB racikan Renault itu memang sudah lama dikenal di Indonesia. Namun tentunya juga tak benar bila APC Anoa merupakan Copy Paste keseluruhan dari VAB, sebab Anoa menghadirkan banyak perubahan yang tak dimiliki oleh VAB.

Dari segi desain saja sudah terlihat, APC Anoa memiliki suspensi yang telah disempurnakan, bahkan dalam hal kenyamanan juru tembak, Panser indonesia ini mempunyai kubah tempat penembak depan yang terpisah. Bandingkan pada VAB, kubah penembak SMB (senapan mesin berat) tepat berada di samping pengemudi, tentu posisi ini kurang efisien bagi penembak maupun pengemudi panser tersebut. 

(APC Anoa, karya seni militer buatan anak bangsa)

Penyempurnaan lain terletak pada penempatan lampu, lampu dari Anoa terletak dikanan dan kiri dengan posisi lebih tinggi dari VAB, sederhana sekali? Ya, memang tapi coba bayangkan bila harus melakukan misi menyebrangi sungai dimalam hari, Anoa tentunya lebih unggul dari VAB yang kedua lampunya diletakan di bagian bawah persis dekat dengan posisi ban. Tentunya kedepan kemampuan Anoa kan lebih ditingkatkan kembali dengan adanya alat perangkat penglihatan malam sehingga misi patroli maupun tempur bisa lebih mumpuni.

Soal armament dan armor, kualitasnya dapat dipertanggung jawabkan, sebagaian besar beralatan persenjataan Anoa dibuat didalam negeri PT.Pindad dan PT. Dahana adalah penyuplai utamanya. Armament dari Anoa sendiri terdiri dari SMB 12,7 mm atau pelontar granat AGL 40 mm, masih bisa ditambah dengan senjata perorangan yang dibawa oleh anggota TNI yang bertugas. Demikian pula kualitas armor atau baja yang dibuat oleh perusahaan dalam negeri PT. Krakatau Steel, makin tambah gahar saja Angkut Personel Amphibi Indonesia ini. 

Menariknya PT. Pindad selaku produsen dari APC Anoa tetap ingin berbagi rizki dengan pengrajin Indonesia, misalnya komponen Knalpot tidak dibuat oleh PT.Pindad namun oleh para pengrajin dari Purbalingga. Inilah yang membuat industri rumahan seperti ini bisa merasakan manisnya rizki dari hasil penjualan alutsisita ini sehingga mereka lebih termotivasi lagi untuk menghasilkan knalpot yang berkualitas dan menjaga mutu dari hasil produknya, karena PT. Pindad tak pernah main-main dalam hal mutu komponen panser APC Anoa ini. 

(produksi massal panser Anoa, dilirik berbagai negara)

Meskipun mesin masih impor dari Renault, namun PT. Pindad tak terlalu pusing, pengalaman berharga yang dimiliki oleh bangsa Indonesia dalam meretrofit atau meremajakan Tank dan Panser TNI menjadikan PT. Pindad lebih fleksibel dalm urusan dapur pacu panser ini. Selain mesin dari Renault, APC Anoa juga dapat menggunakan mesin-mesin yang memiliki kemampuan yang sama dengan mesin yang dihasilkan pabrikan Renault seperti mesin-mesin Marcedes misalnya,-tentu saja soal mesin-mesin apa saja yang digunakan selain dari pabrikan Renault sudah di uji oleh PT. Pindad sebelumnya,- ini tak lain upaya untuk memaksimalkan kemampuan produksi dan tak mudah didekte oleh pabrikan yang bergerak pada bidang yang sama. 

Walaupun belum penah diterjunkan dalam misi tempur, seperti APR-1 di Aceh beberapa tahun yang lalu, namun Anoa mencatat prestasi yang gemilang, dibawah payung misi perdamaian di Libanon, tiga belas panser digunakan dalam misi tersebut. Tentu saja yang tak kalah manisnya, APC Anoa telah dilirik oleh banyak negara, selain Indonesia yang telah memesan panser van bandung ini, ada juga negara Malaysia, Brunai dan Oman, bahkan kabarnya Nepal dan Timor Leste juga berminat membeli panser kebanggan Indonesia ini. 

Kita berharap Industri militer dalam negeri seperti Pindad dan BUMNIS lainnya tidak terlena dengan prestasi yang diraih sebelumnya, namun tetap fokus dan terus berkarya dan berinovasi untuk kemajuan dan kemandirian bangsa dalam hal Alutsisita. Rasa-rasanya jika seperti ini, keinginan dan ambisi untuk Berdikari dalam hal persenjataan bukanlah mimpi tapi kenyataan yang akan semakin nyata kedepannya. Amin.
read more “Sekilas Mengenai Panser TNI.”

shAre

Entri Populer